Categories
Uncategorized

Eksposur yang Tepat

Ada cerita tentang seorang profesor yang sedang mandi di sungai Cherwell di Oxford, di sebuah tempat yang disebut Parson’s Pleasure. Di situ, sudah umum orang mandi telanjang.

Saat sang profesor keluar dari sungai, sebuah sampan yang berisi para mahasiswi lewat. Sang profesor langsung menyambar handuknya dan mengikatkannya menutupi kepalanya.

***

Got it? Sebuah perspektif yang unik bukan? Bagaimana menurut Anda? Kisah ini saya ambil dari buku “Whatever You Think Think The Opposite” karya Paul Arden.(*)

Categories
100 kata Cerpen Karya Rupa-rupa

100 Kata – Model Part Time

Aku kesel banget habis diketawain temen-temenku waktu aku cerita tentang pekerjaan baruku sebagai model part time. Masa kata mereka aku ketinggian ngayalnya.

Mereka juga ndak percaya waktu tak bilang gajiku ini gede. Mereka malah nanya-nanya. Mana buktinya? Kok kemana-mana pergi nggak pake perhiasan atau barang-barang mahal gitu?

Ah, daripada buat gaya-gayaan gitu, mendingan duitnya tak tabung, buat modal bisnis nanti. Lagipula, kalau terlalu mentereng, nanti bisa-bisa aku dirampok. Mending cuma dirampok, kalau diperkosa juga piye? Aku kan seksi.

Sudah ah, ngelantur. Aku mau pemotretan dulu sama majikanku di kamarnya, mumpung istrinya pergi. Eh, lingerie yang baru dia beliin dimana ya?(*)

 

Categories
info physics blog competition

Blogger Sosialita

Manusia adalah makhluk sosial. Demikianlah yang kita pelajari di pelajaran Sosiologi. Hakikat manusia sebagai makhluk sosial membuat manusia tidak akan mampu hidup sendiri. Karena itulah ada yang namanya proses sosialisasi. Di zaman kemajuan teknologi seperti sekarang, pola sosialisasi pun mengalami perubahan. Sekarang, seseorang tidak perlu lagi keluar rumah untuk bersosialisasi. Cukup dari rumah, sekolah, atau kantor, seseorang sudah bisa berinteraksi dengan orang lain melalui berbagai macam situs social media di internet seperti Facebook atau Twitter.

Lantas, bagaimana dengan blogger? Perlukah blogger bersosialisasi juga? Mengingat blogger juga manusia, jawabannya jelas iya. Tapi, selain melalui Facebook atau Twitter, blogger juga perlu bersosialisasi melalui komunitas blogger. Apa itu? Komunitas blogger adalah sebuah ikatan yang terbentuk dari para blogger berdasarkan kesamaan-kesamaan tertentu, seperti kesamaan asal daerah, kesamaan kampus, kesamaan hobi, dan sebagainya. Komunitas ini biasanya sering mengadakan kegiatan bersama, seperti misalnya kopi darat atau workshop tentang blogging.

Melalui komunitas blogger ini kita bisa mendapat banyak manfaat. Selain menambah teman dan sekaligus bisa membantu meningkatkan traffic blog kita, lewat komunitas ini kita bisa banyak berbagi atau bertukar informasi dengan blogger lain, baik itu informasi seputar tips dan trik blogging, info-info situs yang menarik, maupun info tentang sesuatu hal yang tidak ada hubungannya dengan blogging.

Di Surabaya sendiri ada berbagai macam komunitas, namun, salah satu yang cukup terkenal adalah TuguPahlawan.Com atau lazim disebut TPC. Terbentuk mulai tanggal 10 November 2007, komunitas yang menyebut anggotanya The Heroes ini bertujuan untuk mewadahi blogger Surabaya maupun masyarakat umum yang ingin saling bertukar informasi tentang kota Surabaya sambil terus memasyarakatkan blog kepada para warganya.

Yak opo? Arek Suroboyo a? Duwe blog? Yo wis gak usah kakean mikir maneh, ayo ndang gabung nang TuguPahlawan.Com!(*)

Categories
opini physics blog competition

Negara Pengekspor Pembantu

Seberapa sering Anda membaca atau melihat berita tentang TKW asal Indonesia yang disiksa atau berusaha kabur dari rumah majikannya di luar negeri? Cukup sering. Bukan satu dua kali kita membaca di koran atau melihat di televisi berita tentang TKW yang dipukuli, disundut rokok, disetrika, dan disiksa dengan berbagai macam perlakuan yang mengerikan lainnya oleh sang majikan. Anehnya, meskipun sudah sering diberitakan dan (katanya) ditanggapi oleh pemerintah, peristiwa ini masih terus terjadi.

Tenaga Kerja Indonesia (TKI) yang katanya disebut-sebut sebagai pahlawan devisa malah akhirnya terkesan hanya dieksploitasi oleh negara untuk mendapat pemasukan tanpa diimbangi dengan perlindungan yang menyeluruh. Beginikah nasib warga negara kita di negeri orang? Sungguh memprihatinkan.

Categories
info physics blog competition

Kenalkan Diri ke Masyarakat, Himasika Gelar Berbagai Macam Kegiatan

Menjadikan Himasika ITS sebagai organisasi yang memiliki dasar keilmiahan dengan orientasi kedepan berupa pengabdian masyarakat.

Begitulah visi yang diusung oleh Julian Saputro, ketua Himpunan Mahasiswa Fisika (Himasika) ITS, untuk masa kepengurusannya tahun ini. Ditemui kemarin Jumat (21/01), Julian bercerita sedikit tentang organisasi yang dipimpinnya tersebut. Dengan masih mengenakan baju koko usai sholat Jumat, Julian bercerita bahwa tujuan akhir yang ingin ia capai bersama organisasi ini nantinya adalah agar mahasiswa Fisika ITS nantinya mampu terjun langsung dan berkontribusi kepada masyarakat melalui langkah-langkah yang bersifat keilmiahan, sesuai dengan latar belakang mereka di bidang sains.

Pengabdian masyarakat memang menjadi perhatian utama bagi Julian. Dia menilai bahwa selama ini kiprah jurusan Fisika sendiri masih kurang begitu dikenal di masyarakat. “Kalau di (jurusan) Fisika, penelitian internal memang banyak, tapi untuk yang keluar masih kurang sekali,” tutur pemuda asal Bekasi ini. Penilaian inilah yang kemudian mendasarinya untuk membuat program-program kerja yang nantinya dapat lebih mengenalkan jurusan Fisika, khususnya ITS, kepada masyarakat luar.

Beberapa program yang dicanangkannya untuk mendukung visi tersebut antara lain program sukses PKM dan juga Kuliah Kerja Nyata (KKN) yang rencananya akan dilaksanakan pada bulan Maret 2011 nanti. Kegiatan-kegiatan ini selain diharapkan mampu mendongkrak pamor jurusan Fisika, juga mampu memberikan nilai lebih kepada masyarakat.

Selain kepada masyarakat, Julian juga ingin meningkatkan citra jurusan Fisika dimata para pelajar dan juga mahasiswa lainnya. Hal tersebut berusaha diwujudkannya melalui beberapa kegiatan Himasika. Salah satunya, seperti yang kita tahu, adalah Physics Blog Competition yang sekarang sedang berlangsung sampai tanggal 23 Januari mendatang dan membidik kalangan pelajar SMA dan juga mahasiswa. “Kita ingin menunjukkan bahwa mahasiswa Fisika itu tidak hanya berkutat dengan rumus, tapi juga bisa yang lain, misalnya masalah IT,” terang mahasiswa angkatan 2008 ini saat ditanya mengenai alasan penyelenggaraan lomba blog yang tahun ini diikuti oleh 86 peserta tersebut.

Melalui kegiatan yang berjalan sejak tahun 2010 tersebut, Julian berharap dapat menghimpun para mahasiswa, khususnya di ITS, yang memiliki minat terhadap blog. Julian yang mempunyai blog tapi mengaku bukan seorang blogger ini menginginkan nantinya setelah acara ini usai, para peserta dapat berkomunikasi lebih lanjut dan membentuk komunitas blogger yang setahu dia belum pernah ada di ITS.

Disamping lomba blog, dalam waktu dekat Himasika akan menggelar kegiatan yang diberi nama Gebyar Fisika 2011. Gelaran ini nantinya terdiri dari lima rangkaian acara, antara lain open laboratorium bagi siswa SMA, seminar nasional, olimpiade fisika SMA, olimpiade fisika SMP, dan juga Physics Colour Party. Acara yang terakhir disebut cukup unik. Berupa lomba mewarnai bagi anak TK, ajang tersebutlah yang nantinya akan digunakan oleh Himasika untuk mengenalkan fisika kepada anak-anak sejak dini. “Jadi nanti mereka kita kasih gambar-gambar tokoh fisika, misalnya Einstein atau Newton, untuk diwarnai,” ujar Julian. Selain itu, anak-anak tersebut akan diberi pengetahuan singkat tentang fisika melalui gambar-gambar dan media visual lainnya. Melalui cara-cara seperti ini, diharapkan anak-anak pun dapat mulai belajar mengenai fisika sejak dini. (*)

Categories
info physics blog competition

Awas, Yang Gratis Tidak Selamanya Gratis!

Apakah Anda juga seorang pengguna fasilitas blog gratisan seperti saya? Kalau begitu Anda, dan saya, perlu waspada karena belum tentu yang gratis akan selamanya gratis. Simak saja kisah GeoCities, fasilitas blog gratisan dari Yahoo! Yang berapa tahun lalu akhirnya ditutup. Akibat kejadian itu, banyak blogger yang kehilangan blognya. Kalau dalam kehidupan nyata, seperti orang yang digusur rumahnya. Meskipun sampai saat ini WordPress masih adem ayem, resiko itu toh tetap ada dan mengancam kita.

Lantas, bagaimana solusinya? Pak Santoso, pemilik PT. Otak Kanan, menjelaskan bahwa yang paling aman adalah dengan memiliki domain dan hosting sendiri, tidak nunut di penyedia fasilitas blog gratisan. Langkah ini menurutnya adalah yang paling tepat. Apalagi, saat ini harga domain dan sewa hosting sudah tidak mahal lagi. “Sekarang seratus ribu saja sudah dapat domain kan,” tuturnya.

Tunggu, sebelum melangkah lebih jauh lagi, mungkin ada yang masih belum paham tentang istilah domain dan hosting. Oke, kita bahas dulu secara singkat ya. Mudahnya begini, kalau dalam kehidupan nyata kita tahu yang namanya tanah. Di atas tanah itulah nantinya kita mendirikan bangunan. Bangunan yang kita bangun tersebut pastinya punya alamat dong agar mudah dicari. Nah, kalau dalam dunia internet nih, tanah itu bisa diassosiasikan sebagai hosting, lalu bangunan sebagai blog/website kita, dan alamat adalah domain yang kita miliki. Bagaimana? Sudah paham? Sebeum lanjut, liat dulu deh video tentang domain ini:

[youtube=http://www.youtube.com/watch?v=L46M6gSQ1LQ&w=640&h=390]

Sebelum mulai memutuskan untuk membeli domain, Pak Santoso memberikan beberapa tips yang perlu diperhatikan. Tips tersebut antara lain:

–         Sebelum menentukan nama domain, lebih baik kita tahu dulu keinginan kita, mau dikenal seperti apa website kita nantinya. Apakah mau menggunakan nama kita sendiri, atau menggunakan nama maupun istilah-istilah yang unik

–         Kalau bisa, pilihlah domain yang pendek, jadi mudah diingat

–         Gunakanlah frase yang umum. Selain memudahkan untuk diingat, nama-nama yang umum juga akan mudah keluar di mesin pencari (Google, Yahoo!, dll.). Pak Santoso memberi beberapa contoh domain yang umum seperti misalnya desainweb.com, desainlogo.com, dsb.

Kalau sudah mempertimbangkan hal-hal di atas, baru kita bisa menentukan nama domain apa yang cocok kita pakai. Sudah menemukan nama domain yang cocok tapi ternyata sudah diambil orang? Jangan khawatir. Coba saja cari ekstensi yang lain. Misalnya, domain yang kamu inginkan, www.ikanbakar.com, sudah diambil orang, kamu bisa coba memakai www.ikanbakar.net atau www.ikanbakar.info. Jadi, kamu bisa tetap memakai nama domain yang kamu inginkan, bahkan harganya lebih murah. Memang sih, biasanya orang lebih mudah ingat domain yang berekstensi “.com”. Tapi, itu tidak masalah asalkan kamu bisa mempromosikan blogmu dengan baik.

Oh iya, satu hal yang perlu diwaspadai juga untuk urusan domain ini adalah masalah domain yang dipelesetkan. Hah, apaan lagi tuh? Domain yang dipelesetkan adalah domain yang hampir mirip dengan domain yang lain. Contohnya clickbca.com dengan clickabc.com. Biasanya pemilik domain yang pelesetan tersebut memanfaatkan kesalahan orang dalam mengetikkan alamat domain. Tujuannya bisa macam-macam, salah satunya untuk memperoleh traffic dengan mudah. Untuk hal ini, Pak Santoso memberikan tips tambahan, yakni dengan memilih domain yang unik dan kemungkinan salah ketiknya minim. Kalau perlu, nama domain yang mirip-mirip itu dibeli juga dan di-redirect ke domain aslinya. Misalnya Pak Santoso yang selain menggunakan domain otakkanan.com juga membeli domain otak-kanan.com untuk antisipasi agar orang tidak salah masuk website.

Nah, bagaimana? Sudah siap memiliki domain sendiri?(*)

Categories
info physics blog competition

Anak Gaul Surabaya

Di suatu siang yang terik, saat perkuliahan telah usai, Arya tampak berdiri kebingungan di depan kelas sampai akhirnya Andre, temannya, menegurnya.

“He, Ya, ngapain bengong?” tanya Andre.

“Aku bingung Ndre mau ngapain. Lagi nggak ada kerjaan nih, lagi nggak ada tugas. Mau balik ke kosan juga males,” jawab Arya.

“Oh, gitu. Ya wes, daripada bingung, mending ikut aku nonton konser musik sore ini.”

“Konser? Boleh deh. Mau berangkat kapan?”

“Berangkat sekarang aja kalau gitu. Sekalian cari makan dulu.”

“Ya udah. Yuk!”

Kemudian, pergilah mereka bersama-bersama ke tempat tujuan. Ditengah perjalanan, Arya bertanya pada Andre, “Ndre, kamu kok bisa update gitu sih kalo ada event-event asik?”

Sambil tersenyum Andre menjawab, “Ya iyalah. Aku kan sering buka EventSurabaya.net. Twitternya juga aku follow. Jadinya, update terus deh setiap ada event menarik di Surabaya.”

“Ooo…”

***

Kita mungkin pernah juga ngalamin apa yang dialami Arya. Pulang kuliah, nggak ada tugas, jadinya bingung mau ngapain. Atau setiap hari hanya kuliah, kerja tugas, presentasi, kuliah, kerja tugas, presentasi, begitu terus sampai akhirnya kita bosan juga karena nggak ada kegiatan lain yang menarik. Nah, daripada pusing-pusing, mendingan buka deh EventSurabaya.net. Website ini bakal ngasih kita update info tentang acara-acara asik yang ada di Surabaya.

Selain acara-acara buat seneng-seneng seperti konser musik dan pameran, website ini juga berbagi info buat kita yang ingin memperkaya diri dengan seminar atau workshop. Itu yang mau memperkaya diri dengan wawasan. Nah, yang mau memperkaya diri dengan duit, coba aja buka direktori lomba. Tinggal pilih yang mana yang kamu banget, catat jadwalnya, ikut lombanya, dan kalau menang, jangan lupa traktirannya ya. Hehehe…

Heh, masih bengong aja. Udah, buruan buka EventSurabaya.net dan siap-siap jadi Anak Gaul Surabaya! (*)

Categories
info physics blog competition

Belajar dari Doraemon

Aku ingin begini, aku ingin begitu
Ingin ini, ingin itu, banyak sekali…

Semua semua semua dapat dikabulkan
dapat dikabulkan dengan kantong ajaib

Aku ingin terbang bebas di angkasa
Hai… Baling-baling bambu

La la la… Aku sayang sekali…
Doraemon…

Hayoo… Siapa yang tidak tahu Doraemon? Saya yakin, pasti tidak ada yang tunjuk tangan. Kalau ada, wah, bisa-bisa orang tersebut langsung dialienisasi oleh orang-orang lain disekitarnya. Bagaimana tidak? Hampir seluruh rakyat Indonesia Raya tahu dan kenal si robot kucing dari abad ke-22 ini.

Doraemon memang sudah seperti dedengkotnya kartun Jepang di Indonesia. Bayangkan saja, saya sudah nonton Doraemon sejak TK dan sampai sekarang kartunnya masih tetap tayang tiap minggunya. Yang saya herankan, dari jaman saya TK sampai sudah kuliah seperti sekarang ini, Nobita dan kawan-kawannya itu kok ya ndak naik-naik kelas, kelas empaa..t aja. Atau memang di Jepang sekolah cuma sampai kelas empat SD ya? Hehehe… Yah, namanya juga kartun.

Sebenarnya, dari dulu sampai sekarang, ceritanya Doraemon masih sama sih, ya begitu-begitu itu. Nobita yang sering dipermainkan oleh Giant dan Suneo meminta bantuan pada Doraemon. Lantas, Doraemon mengeluarkan alat canggih dari abad ke-22 dari dalam kantong ajaibnya untuk membantu Nobita. Ujung-ujungnya, Nobita juga yang kena batunya karena sering ceroboh dan egois memakai alat-alat doraemon. Ya begitu itu, simpel sih sebenarnya. Tapi yang membuat Doraemon menarik dan edukatif, selain alat-alatnya yang canggih, adalah pesan moral yang selalu diselipkan dibalik ceritanya. Mungkin itu yang membuatnya bisa tetap tayang sampai selama ini.

Kalau dipikir-pikir, tidak salah juga sih kalau Doraemon ini berasal dari Jepang. Alat-alat canggih dari abad ke-22 yang dimiliki Doraemon seakan mencitrakan kemajuan teknologi Jepang. Coba perhatikan, banyak sekali kan produk teknologi Jepang yang tersebar di seluruh dunia. Gampangnya, lihat saja mobil, motor, laptop, televisi, handphone, dan peralatan elektronik lain disekitar kita. Banyak yang bermerek Jepang kan? Dan juga, produk dengan merek Jepang sering diassosiasikan dengan kualitas, lebih-lebih kalau dibandingkan dengan produk dari negeri tetangganya, China. Makanya, kita sering dengar ada produk yang mengedepankan slogan seperti “merek asli Jepang lho”. Yah, semacam itulah. Penyebabnya, ya itu tadi, tidak hanya karena canggih, tapi juga karena kualitasnya yang mumpuni.

Dalam hal inovasi, Jepang pun bisa dibilang luar biasa. Bahkan, dari hasil browsing, saya menemukan sebuah teknologi terkini dari Jepang yang benar-benar mirip alat milik Doraemon. Terobosan itu adalah kaos instan. Ya, kaos instan. Cara pakainya pun sudah seperti mie instan. Awalnya, kaos ini bentuknya kecil, kira-kira sebesar telapak tangan. Tapi, setelah direndam dalam air, ia akan mengembang menjadi seukuran pakaian normal. Jadi, sekarang kita tidak perlu repot-repot membawa tas yang besar bila bepergian. Keren kan? Benar-benar mirip alatnya Doraemon. Lebih jelasnya, coba liat gambar-gambar di bawah ini:

Itu tadi hanya sebagian kecil contoh teknologi milik Jepang. Selain itu, tentu masih banyak lagi yang lainnya. Katakan saja kereta api Shinkansen, robot-robot canggih, dsb. Pertanyaannya adalah kapan Indonesia bisa menyusul Jepang dan membuat alat-alat Doraemonnya sendiri? Bagaimana, Pemuda?(*)

Sumber: http://apakabardunia.com/

Categories
physics blog competition Rupa-rupa

iPad? Nanti Dulu Deh…

Meskipun sudah menyandang gelar alumni, sesekali saya masih sering mampir ke SMA untuk menengok adik-adik kelas saya, terutama yang ada di Smalapala, organisasi pecinta alam dimana saya pernah tercatat sebagai anggota. Beberapa minggu lalu, saat kumpul-kumpul, salah satu adik kelas saya yang bernama Aji bercerita bahwa dalam waktu dekat ia akan menenteng iPad ke sekolah. Saya lantas berpikir, wah, iPad. keren juga nih anak. Beberapa waktu kemudian, ketika saya mampir lagi, anak-anak sudah tampak mengerubungi sebuah benda kotak tipis hitam dengan antusias. Ooh… Jadi itu yang namanya iPad.

Si Aji ini katanya dapat iPad itu secara gratis. Ya, bukan dia sih yang dapat, tapi bapaknya yang kerja di TNI. Bapaknya memang memegang jabatan yang lumayan juga di jajarannya. Saya jadi sempat berpikir, sebegitu besarnya ya pengaruh teknologi zaman sekarang sampai tentara pun juga perlu iPad.

Karena iPad ini memang masih barang baru, tidak heran para anak muda tadi masih begitu norak dan saling berebutan meminjamnya. Kalau boleh ngaku, sebenarnya saya ya ingin pinjam juga sih. Ingin juga rasanya merasakan yang namanya teknologi terkini. Tapi karena antrenya seperti itu, yang tua ngalah dulu deh, nanti-nanti saja dulu.

Akhirnya, setelah beberapa lama, saya dapat juga kesempatan emas untuk memegang iPad tersebut dengan tangan saya sendiri. Ternyata memang inilah yang disebut teknologi terkini. Saking terkininya, saya sampai canggung memegangnya Lebih tepatnya saya bingung, mau apa saya dengan benda ini. Akhirnya, saya hanya membiarkan jari saya menggeser-geser layar, melihat aplikasi-aplikasi yang ada -yang sebagian besar games, mengklik beberapa aplikasi, merasa tidak tertarik -atau bingung, kembali ke home screen, dan akhirnya merelakan komputer tablet tersebut direbut lagi oleh sekumpulan bocah yang sejak sebelumnya sudah berkerumun di dekat saya dengan wajah nafsu menunggu giliran memegang iPad.

Terus terang, saya agak kecewa juga sih waktu itu. Dari banyak ulasan-ulasan yang saya baca di majalah atau di tabloid, tampaknya iPad ini begitu mempesona. Perusahaan-perusahaan lain pun sampai berlomba mengeluarkan produk komputer tabletnya hanya untuk menyaingi teknologi terkini besutan Apple ini. Sayangnya, apa yang saya cari -dari apa yang saya baca di majalah- tidak saya temukan di iPad milik Aji tersebut. Ehm, bukan salah dia juga sih. Harusnya kalau saya ingin punya iPad yang sesuai keinginan saya, ya saya harus punya sendiri. Pertanyaannya adalah: Perlukah saya punya iPad untuk saat ini?

Sejak pertama kali diperkenalkan kepada publik tahun 2010 lalu, pesona iPad memang begitu mentereng. Meskipun bukanlah produk komputer tablet pertama yang dibuat, kemunculannya bisa dibilang menjadi tonggak bagi era komputer tablet saat ini. Kesuksesan ini tak lepas dari nama besar Apple yang sudah tersohor dalam menciptakan gadget berteknologi canggih dan berdesain elegan. Dalam sekejap saja, iPad mampu mencapai angka penjualan yang fantastis. Dan berikutnya, bisa dipastikan, produsen gadget lain pun mulai berlomba menciptakan produk sejenis. Agar ada nilai tambahnya, mereka menambahkan fitur-fitur yang tidak bisa ditemui pada iPad, misalnya kemampuan bertelepon. Walaupun demikian, toh posisi iPad masih tidak tergeser.

Sayangnya, daya tariknya masih belum benar-benar menghasut saya untuk membelinya. Secara pribadi, saya punya beberapa pertimbangan. Yang pertama, sampai saat ini saya masih belum bisa menemukan gadget apa yang bisa efektif disubstitusikan dengan iPad. Dengan harga sekitar lima juta rupiah (harga dari official store Apple Indonesia di internet, kalau beli di toko, harganya mungkin jauh lebih mahal), harusnya iPad sudah bisa menggantikan fungsi netbook atau smartphone yang sudah canggih sekali. Tapi, pada kenyataannya, belum bisa. Pernah suatu waktu, saya perlu mentransfer data dari flashdisk ke handphone. Biasanya, saya hanya tinggal mencolokkan flashdisk ke port USB laptop dan mulai mentransfer menggunakan bluetooth. Karena waktu itu tidak ada laptop, saya pun meminjam iPad. Yang ada dipikiran saya saat itu, karena namanya komputer tablet, ya pasti ada colokan USB-nya. Komputer kan memang identik dengan USB. Saya juga mengira kalau iPad pasti ada bluetooth-nya. Masa sih barang jutaan seperti itu tidak ada bluetooth-nya, wong handphone yang ratusan ribu saja sekarang sudah banyak yang giginya biru. Selanjutnya, saya mulai memutar-mutar iPad tersebut dan meneliti setiap sisinya. Orang yang melihat mungkin akan mengira saya sedang mengagumi keindahan desain tampilan & material iPad, tapi sebenarnya saya sedang berpikir, “Ini colokan flashdisk-nya mana sih?“. Begitulah, kira-kira sampai beberapa saat kemudian saya baru benar-benar yakin bahwa iPad ini memang tidak punya USB port. Yah… Penonton kecewa.

Yang kedua adalah masalah efektivitas iPad sendiri untuk saya. Sebenarnya, iPad ini kebutuhan atau keinginan saya? Kalau saya punya iPad, mau saya isi apa nantinya? Aplikasi yang menunjang kuliah saya atau… game? Memang, game yang ada di iPad terlihat sangat menarik untuk dimainkan. Secara, touchscreen… Tapi, kalau nanti saya jadi punya iPad, dan kemungkinan besar isinya game, bisa-bisa saya termakan godaannya dan bukannya menyelesaikan tugas, saya malah mengajak dosen asisten saya bermain game. Nah lho?!

Untuk urusan hiburan, iPad memang rajanya. Tapi, saya rasa belum saatnya saya membutuhkan hiburan sekelas iPad. Ketimbang membeli hiburan atau gengsi (ini nih, sebagian besar alasan orang punya iPad) seharga lima juta, lebih baik saya bayar SPP kuliah saja sampai tiga semester. Pasti lebih bermanfaat.

Eits, bukan berarti saya nggak pengin punya iPad lho ya. Pengin sih pengin, tapi nanti, kalau saya sudah jadi arsitek, sudah kaya. Ya, kalau sudah begitu sih, bukan cuma iPad, tapi yang lebih canggih lagi juga saya beli. Untuk saat ini? Belum dulu deh, kecuali… iPad bisa berubah menjadi robot yang menggambarkan dan mewarnai tugas perancangan saya. Hehehe… (*)

Categories
physics blog competition Rupa-rupa serial balada maba

Nongkrong ala Mahasiswa

Apakah Anda seorang mahasiswa? Kalau iya, tipe mahasiswa seperti apakah Anda? Menurut Mas Achmad Ferdiansyah, wirausahawan muda ITS penggagas Hetric Lamp, secara umum, ada empat jenis mahasiswa, yakni kupu-kupu, kura-kura, kunang-kunang, dan kuda-kuda. Apa maksudnya?

Yang pertama, kupu-kupu alias kuliah-pulang kuliah-pulang. Mahasiswa seperti ini adalah tipe mahasiswa yang berada di kampus hanya bila ada kuliah. Bila tidak, bisa dipastikan dia sedang ngendon di rumah atau di kosan.

Yang kedua, kura-kura atau kuliah-rapat kuliah-rapat. Nah, dari namanya saja sudah bisa kita simpulkan bahwa mahasiswa tipe ini adalah mahasiswa yang organisatoris, yang hari-harinya disibukkan oleh rapat, baik rapat hima, BEM, atau organisasi-organisasi lainnya, tentunya selain kuliah.

Tipe yang ketiga adalah kunang-kunang yang artinya kuliah-nangkring kuliah-nangkring. Yang seperti ini nih yang sering kita temui berlama-lama di warung-warung daerah Keputih atau Gebang. Yaa… itu yang standar sih. Yang kiriman dari orang tuanya lebih terjamin biasanya lebih memilih mall seperti Galaxy Mall atau Tunjungan Plaza, jadi Anak Gaul Surabaya…

Yang terakhir dan yang paling mulia, kuda-kuda atawa kuliah-dakwah kuliah-dakwah. Selain kuliah, dakwah atau syiar agama juga jadi aktivitas wajib bagi mahasiswa yang menganut paham ini. Biasanya, mahasiswa ini kuliahnya jadi lebih bermakna karena prosesnya menuntut ilmu itu telah dia niatkan sebagai ibadah yang dijalankan hanya untuk Yang Di Atas.

Meskipun yang terakhir merupakan yang paling baik, bukan berarti kita mesti saklek dalam menganut paham tersebut lho ya. Seperti yang diungkapkan oleh Mas Ferdi, yang benar adalah dengan menjadi semua dari tipe-tipe tersebut. Walaupun menyandang status sebagai mahasiswa kuda-kuda, sesekali kita perlu juga menjadi mahasiswa kupu-kupu. Waktu di rumah bisa kita manfaatkan untuk, misalnya, menggarap tugas atau sekedar beristirahat agar kembali fit menjalani aktivitas-aktivitas yang lain. Kura-kura sendiri saya rasa tanpa perlu diperdebatkan lagi memang kita butuhkan. Pengalaman berorganisasi akan dapat mengembangkan soft skill kita dan juga mengasah kematangan kita dalam banyak hal, seperti cara kita bersikap, berpikir, berkomunikasi, dan bersosialisasi. Lagipula, pengalaman seseorang dalam berorganisasi sekarang ini menjadi salah satu poin penting bagi suatu perusahaan dalam merekrut calon tenaga kerja yang baru.

Yang tidak kalah penting juga adalah nangkring atau nongkrong. Biar bagaimanapun, yang namanya manusia itu pasti butuh istirahat. Bukan hanya badan, tapi juga pikiran. Nah, nongkrong bersama teman-teman bisa jadi solusi yang pas untuk itu. Selain itu, nongkrong juga membantu kita untuk bersosialisasi dan mengakrabkan diri dengan teman. Pasti aneh dong kalau sama teman sejurusan nggak saling kenal atau sering berada di kelas yang sama tapi nggak pernah ngobrol cuma gara-gara kurang akrab? Makanya, nongkrong sekali-kali.

Tetapi, masih kata Mas Ferdi, yang namanya mahasiswa nongkrongnya harus beda. Kalau biasanya ngobrol ngalor-ngidul nggak jelas atau malah bergosip ria, sekarang, dengan status mahasiswa, tema obrolannya harus lebih berbobot. Jadi, alih-alih mendiskusikan episode Cinta Fitri tadi malam, nongkrong ala mahasiswa malah lebih tertarik membahas polemik Tol Tengah Kota Surabaya atau kinerja pemerintah dalam menangani kasus korupsi, misalnya. Bagaimana? (*)