Categories
curhat serial balada maba wawasan arsitektur

Jadi Mahasiswa Arsitektur (Tidak) Harus Jago Gambar (part 2)

Dalam postingan sebelumnya saya sudah jelaskan bahwa kemampuan menggambar bagi seorang mahasiswa arsitektur, meskipun penting, bukanlah yang utama. Lantas apa yang utama? Jawabannya akan Anda temui di akhir posting ini. Namun sebelumnya, saya ingin menjelaskan bagaimana rasanya menjadi seorang mahasiswa arsitektur.

Bukannya menakut-nakuti, tapi menjadi seorang mahasiswa arsitektur itu bukan perkara yang mudah -kalau tidak bisa dibilang berat. Saya sendiri merasa semester awal bagaikan neraka dunia, stres dengan tugasnya. Saya ingat betul sepupu saya suka mengolok-olok bahwa mahasiswa arsitektur itu kerjaannya sudah seperti anak TK saja, menggambar dan mewarnai. Saya sendiri hanya tersenyum kecut. Kalau saya jadi dia -nonmahasiswa arsitektur-pun, saya mungkin akan berpendapat sama. Sayangnya saya tak bisa tertawa selepas dia kalau sudah bicara soal tugas. Dan saya cukup yakin dia pun juga akan mengalami hal yang sama kalau jadi saya.

Meskipun agak miris mengatakannya, tapi sesungguhnya waktu itu saya termasuk beruntung karena tidak mengikuti UKM apapun dan secara kebetulan ospek jurusan -atau yang biasa disebut pengaderan- juga belum dimulai. Praktis, fokus saya hanyalah kuliah. Tapi, toh tetap saja kuliah keteteran. Prestasi terburuk yang saya catatkan waktu itu adalah mendapat nilai D untuk mata kuliah Perancangan Arsitektur 1, matkul utama yang berbobot 6 SKS. Bayangkan! Nilai D untuk mata kuliah 6 sks! Sontak IP saya jeblok. Meskipun ada dua nilai A, tetap saja nilai saya tidak tertolong karena total dua matkul tadi hanya 5 sks. IP saya pun mandeg di angka 2,58, jauh sekali menyentuh 3,00. Reaksi orang tua? Marah sih tidak, tapi rasanya orang tua, terutama ayah saya, ingin memberikan hukuman yang lebih memberatkan dengan mengungkit-ungkit terus IP yang tidak sampai 3 tadi sepanjang semester 2. Nah, apa nggak tekanan batin coba?

Satu hal bisa Anda anggap aneh dari kasus saya adalah bahwa saya tahu pasti alasan mengapa saya dapat nilai D tadi. Dan saya cukup tahu pasti hal itu bahkan tanpa menanyakannya pada dosen pembimbing. Lalu, sekarang apa yang menjadi gambaran Anda tentang diri saya? Saya tahu kekurangan saya namun tetap gagal. Ya, bisa dibilang saya tidak bekerja cukup keras.

Seperti yang sudah saya bilang, kuliah arsitektur itu bukan perkara mudah. Masa SMA saya, sayangnya, tidak membuat saya cukup tangguh untuk menghadapinya. Orang-orang yang tahu asal sekolah saya mungkin akan silau. Bukannya berniat untuk sombong sih, tapi SMA saya memang cukup terpandang di kota Surabaya, beberapa bahkan menyebut sampai tingkat nasional. Tapi satu hal yang perlu Anda tahu, bahwa tidak semua lulusan sekolah favorit juga mempunyai kecemerlangan yang sesuai pamor sekolahnya. Nah, saya termasuk yang tidak semua itu.

Tahun pertama, saya memang sangat pasif. Hanya sekolah, nongkrong di kelas, lalu pulang. Tidak bergaul sama sekali. Baru beranjak ke kelas dua saya mulai ikut OSIS, lalu kepanitiaan sana-sini. Di sinilah orientasi saya mulai berubah. Saya jadi lebih mengutamakan berbagai kegiatan-kegiatan kepanitiaan dan organisasi dibanding urusan akademik. Tidak sampai keteteran amat sih. Tapi itu kan masa SMA. Bahkan saat saya sengaja tidak mengumpulkan tugas pun nilai sejarah saya tetap keluar dan cukup baik.

Parahnya, kebiasaan tadi terbawa sampai saya kelas tiga. Bahkan, saat kelas tiga ini saya sudah mulai beranggapan bahwa pergi ke sekolah adalah bertemu teman-teman & bersenang-senang. Yang ajaib juga adalah bahwa saya memutuskan untuk baru mengikuti ekskul (atau di sekolah saya disebut SS) pada tahun akhir tersebut. Gara-gara hal itu, meskipun secara tidak langsung, saya melepas bimbingan belajar saya selang beberapa bulan masuk, padahal, biayanya sudah dibayar lunas sampai akhir tahun ajaran (saya merasa berdosa kepada kedua orang tua saya untuk hal ini). Pikiran saya waktu itu hanya satu: lulus UNAS. Saya tidak berharap lulus SNMPTN dan sebagainya karena niatan awal saya waktu itu memang tidak kuliah, lebih tepatnya malas kuliah. Soal sekarang saya malah jadi mahasiswa arsitektur itu ceritanya panjang, tidak usahlah saya ceritakan karena curhat saya barusan pun sudah cukup panjang.

Intinya, kurang lebih masa SMA saya itu ngawur. Maka, begitu saya memasuki dunia perkuliahan, saya tidak siap dan saya hancur. Tugas jarang selesai tepat waktu. Kalaupun selesai, hasilnya asal-asalan karena nggarapnya grasa-grusu. Masuk kuliah sering telat. Bolos? Wah, jangan ditanya, jatah bolos legal saya termanfaatkan dengan baik. Alasannya sih karena waktu bolos tadi saya pakai mengerjakan tugas yang deadline-nya sudah mepet dan belum selesai. Alasan yang lain lagi karena saya telat dan sungkan -malas- untuk masuk kelas.

Faktor penyumbang kegagalan saya yang lain adalah asistensi. Asistensi, boleh saya bilang, merupakan kunci utama suksesnya kuliah. Melalui asitensilah kita bisa mendapat ilmu yang benar-benar bermanfaat sekaligus mengetahui keinginan dosen pembimbing kita. Ini penting karena dosen pembimbinglah yang memberi kita nilai, yang menentukan nasib kita. Ibarat dunia profesional, dosen pembimbing adalah klien kita. Arsitek memang berhak mengeksplorasi ide, kreativitas, serta ego pribadinya dalam desain. Namun, mengesampingkan peran klien dalam proses tersebut hanya akan mebuat Anda menjadi seorang arsitek yang terbuang. Saya sendiri melewatkan banyak asistensi karena di saat yang lain sudah siap membawa gambar, paling tidak sketsa atau materi apa pun untuk diajukan ke dosen asisten, saya tidak memiliki apa-apa. Nol. Bahkan saya sudah terlambat sejak proses pengerjaan.

Masih ada lagi hal lain yang perlu Anda ketahui dan ingin saya ceritakan. Tapi mengingat postingan ini sudah cukup panjang, silahkan tunggu dulu sampai saya menyelesaikan part selanjutnya. Saya tidak memaksa Anda untuk terus membaca postingan saya. Hanya saja, saya rasa cukup sayang bagi Anda untuk melewatkannya.

Bersambung…

Categories
curhat serial balada maba wawasan arsitektur

Jadi Mahasiswa Arsitektur (Tidak) Harus Jago Gambar (part 1)

Dimuat pula di mahasiswaarsitektur.wordpress.com dan mahasiswaarsitektur.co.cc

Beberapa hari lalu, tiba-tiba saja seorang adik kelas yang telah memastikan diri masuk jurusan arsitektur ITS, mengikuti jejak saya, mengirimi saya pesan singkat. Dia, entah bertanya atau curhat, bilang bahwa ia nol sama sekali tentang materi arsitektur dan bingung harus bagaimana. Apalagi, ia minder begitu melihat blog teman seangkatan saya yang memajang hasil sketsa dan gambarnya selama dua semester ini karena, menurutnya, ia tidak begitu jago menggambar. Untuk yang pertama, saya tanggapi sambil senyam-senyum saja. Ya barang tentu dia belum tahu apa-apa tentang arsitektur lha wong memang belum mulai kuliah. Tujuan kuliah itu kan ya supaya jadi tahu dan paham serta bisa “berarsitektur”. Sedang untuk masalah minder tadi, saya hanya bilang, “Tenang, nanti kan diajarin cara nggambarnya.” Tampaknya, jawaban saya cukup bisa diterima olehnya. Entah begitu atau dia sungkan bertanya lebih jauh lagi.

Sebenarnya, saya bisa saja bilang kepadanya bahwa jadi arsitek itu tidak harus pintar menggambar. Dengan begitu, ia tentu bisa jadi lebih tenang. Namun, itu berarti sama saja dengan menjual pepesan kosong kepadanya, seperti halnya saya yang merasa ditipu oleh salah satu dosen kami setahun yang lalu. Saya masih ingat sewaktu IPITS (semacam MOS kalau di SMA) salah satu dosen arsitektur ITS yang bernama Pak Wahyu menunjukkan pada kami, para mahasiswa baru, foto-foto hasil rancangan arsitek terkenal di seluruh dunia. Melihat kami semua terperangah, beliau lalu menjelaskan -sekaligus menerbitkan harapan kami- bahwa kami pun bisa menghasilkan karya yang seperti itu. Dan untuk itu, ini yang paling membuai: kami tidak harus pandai menggambar. Selama ini, paradigma yang terbentuk memang arsitek itu sama dengan menggambar. Lebih spesifik lagi, arsitek itu gambarnya bagus. Beliau lantas mencontohkan Frank Gary. Meskipun karyanya sudah sedemikian terkenal, ternyata ia bukanlah seorang yang jago menggambar. Bahkan, menurut Pak Wahyu, gambarnya tidaklah lebih bagus dari hasil corat-coret anak TK. Sketsa yang sedemikian indahnya ternyata adalah hasil karya asistennya. Jadi, Frank Gehry yang memiliki idenya, dan asistennya yang bertugas memvisualisasikannya dalam gambar. Diberi cerita seperti ini, tentu semangat kami -terutama yang merasa kemampuan menggambarnya payah- jadi lantas berkobar-kobar.architect, arsitek, arsitek telepon, kerja arsitek

Sayang seribu sayang, kobaran semangat itu tidak bertahan lama, bahkan nyaris padam begitu memasuki masa perkuliahan. Dua mata kuliah yang menguasai separo dari keseluruhan jumlah sks pada semester satu (masing-masing 6 sks & 3 sks) ternyata mengharuskan kami maraton menggambar. Dua mata kuliah itu disebut Perancangan Arsitektur 1 dan Komunikasi Arsitektur. Komunikasi? Ya, tapi bukan yang ngomong-ngomong itu. Coba Anda pikirkan. Kalau seorang penyiar radio berkomunikasi dengan kata-kata, seorang presenter televisi dengan kata-kata plus gesture (gerak tubuh), maka seorang arsitek harusnya berkomunikasi dengan… GAMBAR! Tepat sekali. Yah, kata-kata dan gerak tubuh juga sih. Tapi kalau gambarnya saja tidak ada, apa yang mau disampaikan coba.

Dan menggambar di sini bukanlah menggambar pemandangan dua buah gunung dengan matahari terbit di tengahnya plus jalanan yang semakin menuju gunung ukurannya semakin kecil sampai jadi lancip. Oh, tidak lupa sebuah rumah dan sawah di tepi jalan. Plus, jangan lupakan juga kawanan burung yang sedang terbang di atas langit. Tapi sayangnya bukan, bukan itu. Menggambar di sini adalah menggaris tanpa penggaris, tidak boleh menggunakan penghapus, harus menggunakan teknik tebal-tipis, rendering (arsiran) untuk menghasilkan bayangan, dan digambar secara perspektif, umumnya perspektif normal, tapi dalam beberapa kasus bisa jadi perspektif mata burung, tergantung permintaan. Yah, itu semua ditambah kemampuan mewarnai (bukan yang sekelas anak TK atau SD yang baru belajar menggambar lho ya) dan kemampuan berpikir spasial. Yah, kurang lebih semua itu.

Tak heran, saya dan beberapa orang teman saya sempat merasa stress waktu awal-awal itu. Saya bahkan sempat menganggap dosen tadi seorang pembohong. Namun, setelah saya pikir-pikir lagi, dosen saya tidak bohong kok. Beliau memang berkata kalau jadi seorang arsitek itu tidak harus pintar menggambar, tapi beliau tidak berkata bahwa hal yang sama juga berlaku saat Anda menjadi seorang MAHASISWA ARSITEKTUR kan? Sejak itu saya paham. Beliau tidak salah. Saya yang salah.

Fakta tersebut -fakta saya menyadari bahwa saya salah- sayangnya tidak membuat gambar saya jadi bagus. Tetapi, saya kemudian mempelajari bahwa kemampuan menggambar memang bukanlah yang utama. Yah, sangat dibutuhkan sih, tapi bukan yang utama. Lantas apa dong yang utama? Saya akan jelaskan, tapi nanti dulu ya, di postingan kedua saya biar Anda penasaran (alesan aja sih sebenarnya karena males nulis panjang-panjang).

bersambung

Categories
curhat opini

Tuntutlah Ilmu Sampai ke Negeri Kincir Angin

Masih rangkaian artikel saya untuk Kompetiblog 2011, ini tulisan saya yang kedua.

 

Tuntutlah Ilmu Sampai ke Negeri Kincir Angin

 

Anda yang muslim tentu tahu bahwa Nabi Muhammad SAW menganjurkan kita untuk senantiasa menuntut ilmu, bahkan sampai ke negeri China. Melalui pesan tersebut beliau menekankan pentingnya ilmu sebagai bekal kita, sehingga jarak yang jauh pun tidak bisa dijadikan halangan dalam meraihnya. Persoalan dimana mencarinya, tentu tidak harus melulu ke China. Itu kan hanya satu contoh. Mungkin saja pada zaman itu China sedang dalam masa emas pada bidang keilmuan. Kalau sekarang, saya rasa banyak juga negara lain yang bisa jadi tujuan. Yah, China juga tidak buruk sih. Kalau saya ditanyai apa mau belajar di negara tirai bambu tersebut pasti saya langsung menjawab iya, andai saja pendidikan di sana diantarkan dalam bahasa Inggris, syukur-syukur Indonesia (yang ini agak terlalu mengkhayal, saya tahu).

Pelajaran bahasa Mandarin baru saya dapat di bangku kelas X (1 SMA). Bahasa tersebut saya pelajari selama tiga tahun. Ironisnya, sampai sekarang saya sudah lulus, saya masih belum cukup percaya diri untuk mengucapkan kata selain ‘ni hao’ dan ‘zai zian’, apa kabar & sampai jumpa. Seingat saya pun, pelajaran yang saya dapat selama tiga tahun tidak berkisar jauh dari situ.

Mungkin memang bahasa Mandarin yang agak terlalu rumit. Boleh jadi bahasa asing lain tidak sesulit itu. Harusnya, jika saya punya motivasi yang kuat, bisa saja saya ambil kelas persiapan atau kelas intensif bahasa, katakanlah paling lama setahun, lalu saya sudah siap berangkat ke negeri seperti Jerman, Perancis, Jepang, dsb. Hanya saja, rasanya tidak semudah itu. Bahasa ilmiah yang digunakan dalam perkuliahan di universitas tentu akan sangat berbeda dari sekadar bahasa sapa-menyapa atau berbasa-basi. Lagipula, saya sudah hampir sepuluh tahun belajar bahasa Inggris (sejak kelas 3 SD). Jadi, kalau disuruh memilih, saya lebih memilih kuliah berbahasa Inggris. Saya memang belum sejago itu bercas-cis-cus dalam bahasa Inggris. Tapi, paling tidak saya jauh lebih menguasai bahasa ini dibanding bahasa asing lain. Karena masalah bahasa ini, saya menjatuhkan preferensi saya pada Belanda, negara berbahasa non-Inggris pertama yang berani menawarkan program studi berbahasa Inggris.

Mengapa bukan Amerika atau sekalian langsung saja ke Inggris? Jawabannya simpel: biaya. Dibanding negara lain, biaya pendidikan di Belanda cukup kompetitif. Sekarang, siapa coba yang tidak mau mendapat pendidikan berkualitas dengan biaya terjangkau?

Sejak SMA, promosi kuliah di luar negeri dari Belanda selalu berhasil menarik perhatian saya. Sampai sekarang pun masih, terutama karena brosurnya yang cantik sebab dihiasi warna oranye yang terang. Hanya saja, sayangnya dulu saya belum memiliki niat melanjutkan kuliah di luar negeri. Lebih tepatnya, saya tidak memiliki niat untuk melanjutkan kuliah. Sekarang, saya bersemangat sekali untuk kuliah di luar negeri. Yah, semoga saja dua minggu summer school ini (kalau lolos, amin) nantinya bisa jadi langkah penjajakan awal yang berarti.(*)

Categories
curhat Rupa-rupa

Saya, Malam Tahun Baru, dan Bioskop Trans TV

Tidak terasa ya sudah akhir tahun saja. Tidak terasa tahun 2010 telah sampai di penghujungnya dan 2011 sudah bersiap-siap untuk menyapa kita. Tidak terasa kita sudah mengalami banyak hal selama setahun ini dan akan mengalami banyak hal yang lain selama setahun berikutnya. Tidak terasa, tidak terasa.

Well, mungkin pemilihan kata ‘tidak terasa’ agak terlalu berlebihan. Tapi memang sesuatu terasa berjalan begitu cepat terutama ketika ia sudah sampai pada bagian akhir. Seperti waktu sekolah dulu, tepatnya saat malam perpisahan. Tidak terasa ya sudah tiga tahun kita bersama, rasanya baru kemarin kita dimarahi mbak mas panitia MOS. Yaa… kira-kira seperti itulah.

Nah, terkait masalah pergantian tahun ini, saya yakin sebagian besar diantara kita sudah punya rencana masing-masing untuk merayakannya dengan berbagai macam acara, baik bersama kekasih, keluarga, sahabat, atau bahkan orang yang belum Anda kenal, orang yang baru Anda temui di tempat Anda menghabiskan malam tahun baru. Ada juga sih yang tidak ikut merayakan, tentunya dengan berbagai alasan. Mungkin sakit, bokek, ataupun (ini yang paling menyedihkan) tidak punya teman untuk diajak merayakan.

new year, tahun baru, pesta, 2011

Lalu, bagaimana dengan saya? Apa yang saya rencanakan untuk malam tahun baru ini? Seperti yang sudah-sudah tahun sebelumnya, tidak ada. Entah kenapa saya tidak pernah larut dalam euforia pergantian tahun. Bagi saya, malam 31 Desember ya sama saja dengan malam-malam lain sepanjang tahun. Malam yang biasa, dihabiskan dengan biasa pula.

Satu-satunya perayaan tahun baru yang pernah saya alami terjadi waktu SMP, waktu kelas dua kalau tidak salah. Itu berarti pergantian tahun 2005 ke 2006. Waktu itu, saya diajak merayakan malam tahun baru bersama di salah satu rumah teman kami yang bernama Nashirin. Acaranya bakar-bakar ayam, lumayan juga. Dan itu mungkin jadi satu diantara sedikit malam tahun baru dimana saya terjaga sampai tengah malam, saat perhitungan waktu mundur dan pesta kembang api dimulai. Kalau waktu itu tidak diajak, mungkin pukul sepuluh malam saya sudah bermesraan dengan kasur, guling, dan bantal.

Pernah juga di malam tahun baru yang lain, kakak kedua saya datang ke rumah dan mengajak saya ke rumah kakak saya yang pertama. Waktu itu sih katanya mau keluar bareng. Ya saya nurut aja ngikut.

Ternyata, sampai di tempat, entah karena apa, kami tidak jadi keluar. Yang ada malah saya, pacar kakak saya, dan beberapa temannya hanya diam di rumah. Dengan ditemani soft drink dan beberapa camilan, kami menonton Spiderman 2 di bioskop… Trans TV. Ya, hanya begitu. Waktu itu saya agak cegek juga sih. Lha kalau cuma nonton bioskop Trans TV, satu hal yang selalu saya lakukan waktu malam tahun baru, ya ndak usah repot-repot dan jauh-jauh ke rumah kakak saya toh ya (rumah kakak saya di Rungkut dan rumah orang tua saya di Benowo), di rumah sendiri juga bisa. Apalagi, saya merasa terkucilkan karena meskipun sesekali diajak ngobrol, seringkali saya dikacangi oleh mereka itu yang tidak saya kenal dan obrolannya pun tidak saya mengerti.

Tapi memang dibalik hal buruk ada juga hal baiknya, kalau memang apa yang saya alami ini bisa disebut baik. Esok paginya (malam itu saya menginap), orang-orang pergi keluar semua, meninggalkan saya sendirian di rumah. Seharusnya saya merasa sedih, tapi nyatanya saya justru senang karena itu artinya saya punya kesempatan untuk menonton film syur yang malam sebelumnya saya lirik berada di tumpukan kaset DVD. Ya, sedikit nakal bolehlah ya. Hehe…

Jadi, begitulah tahun baruan ala saya. Nothing’s special, just sitting down in front of TV and watching Bioskop Trans TV. Malam nanti pun sepertinya akan tetap sama karena sampai saat ini belum ada lagi yang mengajak saya merayakan tahun baru.Eh, tunggu-tunggu, setelah tahun baruan waktu SMP itu memang tidak ada lagi yang mengajak saya merayakan tahun baru. Jadi, saya tidak pernah merayakan tahun baru karena memang tidak suka atau tidak punya teman (alasan tidak merayakan tahun baru yang tadi saya bilang paling menyedihkan) ya?(*)

Categories
curhat pelajaran hidup Rupa-rupa serial balada maba

#percumaganteng kalau tugasnya gak selesai

Memasuki akhir semester ini, tugas-tugas yang bermunculan semakin berat dan menuntut fokus ekstra dalam pengerjaannya. Tapi, bukannya bersemangat dalam ‘bertugas’, saya malah lebih bersemangat mengerjakan hal-hal yang lain. Imbasnya, banyak target mingguan yang mbleset, melenceng. Sekarang saya hanya bisa berharap target akhir dan deadlinenya tidak melenceng lagi.

Apa yang mengalihkan perhatian saya belakangan ini malah bisa dibilang jauh dari bidang yang harusnya saya tekuni. Sebagai seorang mahasiswa arsitektur, saya malah lebih banyak menghabiskan waktu mendalami dunia tulis-menulis. Bisa Anda perhatikan bahwa mungkin dalam beberapa hari ini saya lumayan aktif lagi membuat postingan. Itu baru yang di-publish, yang berupa draft, baik yang tertulis maupun yang tidak tertulis alias tersimpan di otak, lumayan banyak juga.

Beberapa hari waktu yang lalu pun saya mengikuti workshop jurnalistik yang diadakan di kampus saya. Saya bahkan merelakan hampir seharian waktu yang bisa saya gunakan untuk mengerjakan mungkin sekitar 10% dari keseluruhan tugas saya untuk belajar ilmu jurnalistik, ilmu tulis-menulis, ilmu yang tidak berhubungan dengan tugas atau kuliah saya, paling tidak tidak untuk semester ini.

Selain menulis, saya juga suka membaca. Sejak beberapa minggu yang lalu, saya jadi rajin sekali datang ke perpus. Selain numpang berinternet gratis (dasar pecinta gratisan), saya juga sering menelusuri rak-rak yang berjejer untuk mencari buku-buku yang bagus dan bisa dipinjam. Namun, lagi-lagi bukan tentang arsitektur. Alih-alih meminjam buku tentang konstruksi atau desain bangunan, saya malah meminjam kumpulan cerpen Djenar Maesa Ayu, kumpulan cerpen yang lain tentang Palestina, sebuah buku karangan Wimar Witoelar (yang sulit saya deskripsikan klasifikasinya), buku tentang petuah entrepreneurship, buku tentang warna dalam Photoshop, sampai buku tentang bagaimana cara menjadi seorang rockstar. Benar-benar tidak arsitektural! Harusnya kebiasaan membaca buku memang jadi sesuatu yang bagus dan bahkan perlu dibudayakan. Tapi entah mengapa kebiasaan tersebut datang di saat yang tidak tepat bagi saya.

Baru saja tadi saya membaca buku berjudul “Guru Goblok Ketemu Murid Goblok” karangan Iman Supriyono, saat kuliah Mekanika Teknik. Ya, saya lebih memilih membaca buku tentang entrepreneurship daripada memperhatikan materi kuliah yang sudah jelas-jelas dijelaskan oleh dosen saya akan keluar untuk UAS nanti. Tragis dan ironis memang.

Buku tersebut sebenarnya memang tentang entrepreneurship (capek juga ya mengetik kata ini), tentang nasihat-nasihat dan kiat-kiat pengembangan kemampuan entrepreneurship gitu deh. Tapi banyak juga isinya berupa saran pengembangan kepribadian yang bisa diterapkan dalam kehidupan yang umum, termasuk kehidupan saya sebagai mahasiswa yang carut marut ini agar jadi lebih tertata.

Terus terang, saat membaca buku tadi saya merasa sedih lho. Kenapa kok ya nasib saya jadi seperti ini. Kenapa saya merasa tidak cocok kuliah di arsitektur, padahal dulu jurusan ini adalah pilihan pertama saya dan mungkin bisa dibilang satu-satunya pilihan yang saya punya saat itu. Kenapa kok saya baru baca buku ini sekarang, saat tengah-tengah bahkan sudah mau akhir masa perkuliahan, bukannya dulu-dulu waktu awal kuliah atau sekalian sebelum kuliah, walaupun mungkin hal itu tidak akan banyak berpengaruh bagi saya. Karena praktek sungguh tidaklah semudah teori. Sebagai contoh, meskipun saya sudah mencanangkan perubahan bagi saya sendiri (coba cek di postingan ini), toh hasilnya tidak banyak terlihat sampai saat ini. Bahkan, tadi malam, saya tidur jam setengah dua belas hanya untuk bermain Zuma, mengabaikan kertas tugas, penggaris, dan pensil yang tergeletak di depan saya. Sekali lagi, tragis!

Saya jadi ingat tweet teman saya, ErstiEcci, kemarin saat #percumaganteng menjadi trending topic di Twitter. Begini tweet-nya:

#percumaganteng kalau tugasnya gak selesai.

Tweet ini cukup menohok saya, karena selain tugas saya tidak selesai, saya juga tidak ganteng! (*)

PS: A little confession, I made this post while skipping a class (again). *sigh...

Categories
curhat serial balada maba

Hujan dan Efeknya Pada Mahasiswa (Seperti Saya)

Seri Balada Maba

Dalam beberapa hari belakangan ini sepertinya cuaca di Surabaya sedang kurang bersahabat. Hujan yang tidak bisa dikategorikan ringan terus turun setiap harinya. Waktunya pun tak tentu, bisa pagi, siang, sore, atau bahkan malam dan dini hari.

Efek yang timbul pun langsung terasa (banget): BANJIR. Meskipun tempat tinggal saya tidak ikut tergenang, area dekat-dekat situ terkena banjir yang lumayan parah. Sialnya, daerah-daerah korban banjir tersebut adalah daerah yang selalu saya lewati untuk menuju ke kampus. Dan karena banjir, saya harus mengambil jalan memutar yang lumayan jauh. Sangat jauh. Otomatis, durasi perjalanan saya pun jadi molor semolor-molornya. Sekedar catatan, jadwal kuliah saya selama seminggu adalah jadwal kuliah pagi, rata-rata jam 7. Paling siang jam 9. Bisa Anda bayangkan kan nasib saya? Bahkan, gara-gara banjir, saya pernah sampai telat lebih dari setengah jam. Untungnya, dosen saya datangnya juga telat. Selisih kedatangan kami hanya beberapa menit, jadi saya pun aman masuk kelas. Kadang-kadang saya bersyukur mempunyai dosen yang suka telat seperti beliau, terutama saat saya juga telat. Hehehe…

Masalah cuaca ini, selain mendatangkan banjir, ternyata juga mendatangkan efek baik bagi saya lho. Sering turunnya hujan membuat hawa jadi adem-adem nentremake ati. Karena itu, entah mengapa, beberapa hari ini kualitas tidur saya jadi maknyos sekali. Saya merasa enaaak banget tidurnya. Paling tidak, hal ini bisa jadi semacam hiburan buat saya yang setelah masuk arsitektur jadi sering ngelembur dan kehilangan banyak waktu tidur.

Jadi, cuaca buruk tidak selalu buruk. Banjir dimana-mana ditukar dengan kualitas tidur yang baik (entah pertukaran itu bisa disebut adil atau tidak). Eh, tunggu-tunggu, kan kalo tidur saya nyaman saya jadinya keenakan tuh, terus akhirnya males bangun, buntutnya kesiangan juga. Berarti, ujung-ujungnya buruk juga dong. Ah, bodo amat lah. Dipikir aja entar dalem mimpi. *menepuk-nepuk bantal dan bersiap mengambil posisi tidur*.

Categories
curhat Rupa-rupa

Hari-hari Penuh Derita, Istri dan Tanggal Tua

Blogging time again! Saya tahu, Anda mungkin sudah cukup hafal -atau bahkan bosan- dengan alasan yang saya kemukakan tentang mengapa waktu blogging saya sangat tidak teratur. Eh, teratur ding, teratur lama tepatnya. Hehe… Untuk yang kali ini, saya tidak akan memakai dalih seperti tugas, malas atau tidak ada waktu lagi. Kali ini alasan saya cukup umum kok, saya yakin banyak blogger yang pernah mengalami hal yang sama: masalah ide.
Sejak terakhir kali mengupdate blog ini, pikiran saya mulai diriwuki lagi oleh permasalahan ide ini. Awalnya buntu ide, tapi kemudian malah jadi kebanyakan ide. Ujung-ujungnya, bingung lagi. Jadinya, nggak ngeblog lagi deh. Saya baru dapat pencerahan setelah blogwalking ke laman guru SMA saya (mengingatkan kita lagi, blogwalking itu penting!). Sebelumnya, saya terlalu bingung dengan ide-ide tulisan yang rumit dan pikiran tentang apakah nantinya ide saya itu jadinya bagus atau tidak, dsb. Tapi kemudian saya sadar, saya tidak perlu berpikir serumit itu! Postingan guru saya itu lho banyak berisi hal-hal ringan seputar keseharian beliau sendiri, tapi toh -bagi saya paling tidak- tetap menarik untuk diikuti.
Sejak itu saya sadar, halooo… saya ini lho hidup dan berkehidupan, masa sih tidak ada yang menarik untuk diceritakan, wong saya ini lho seorang sanguinis. Eits, bukan berarti kehidupan Anda (yang bukan sanguinis) tidak menarik. Tidak, bukan. Kehidupan Anda juga menarik kok. Kalau tidak untuk sejumlah orang, paling tidak iya untuk sebagian yang lain. Jaadiii… kalau Anda seorang blogger dan bermasalah dengan ide, tulis saja: "Hari-hari Penuh Derita, Istri dan Tanggal Tua". (*)

NB: Maaf ya, judulnya agak nggak nyambung Sekarang saya malah bermasalah dengan judul. Ada yang mau membantu?

Categories
curhat pelajaran hidup Rupa-rupa serial balada maba

Perkara Menghilangnya Saya dari Dunia Blogging

Wah, sudah berapa lama ya saya tidak ngeblog? Sejak terakhir kali saya pamit cuti ngeblog lewat postingan yg lalu, saya benar-benar mengalami masa hiatus total. Well, mungkin tidak benar-benar total. Terkadang saya masih menyempatkan diri membuka dashboard hanya sekedar untuk mengecek komentar atau stats. Kalau nggak begitu ya saya mampir blogwalking ke blog lain melalui halaman links. Tapi untuk menulis postingan baru, nol besar. Dan bagi saya, itu sama saja dengan hiatus.

Tunggu, sebelum Anda bingung atau bertanya-tanya, kemana arah pembicaraan saya, ada baiknya saya tegaskan dari awal: SAYA MAU CURHAT. Bila Anda bukan tipe orang yang gemar membaca curahan hati orang lain melalui internet, Anda boleh membaca bagian lain dari blog ini, asal jangan langsung pergi saja sih. Hehe… Otherwise, Anda bisa lanjut membaca postingan ini sebelum main-main ke bagian lain.

Oke, intermezzo yang cukup panjang. Kembali lagi ke topik sebelumnya dimana saya meliburkan diri dari aktivitas blogging. Kalau Anda sempat membaca postingan saya sebelumnya, Anda tahu disitu bahwa dalih saya pamit adalah karena tugas. Ya, tugas. Banyak tugas-paling tidak menurut saya- lebih tepatnya. Boleh jadi Anda mencibir saya, ah tugas kan semua juga sama saja. Semua juga dapat tugas, semua aja mikir tugasnya berat. Boleh jadi benar, menurut Anda. Itu karena Anda tidak benar-benar mengenal saya. Saya ini orangnya santai. Terlampau santai mungkin. Kalau ada tugas membuat prakarya atau sesuatu, biasanya baru saya buat beberapa hari sebelum hari pengumpulan. Kalau tugasnya berupa tulisan malah bisa baru saya kerjakan hari itu juga. Dalam beberapa kasus, malah pada akhirnya saya tidak mengumpulkan tugas sama sekali dan tidak merasa bersalah. Meskipun demikian, prestasi akademis saya cukup terjaga. Memang sih tidak bisa disebut cemerlang, tapi juga jauh dari kata jelek. Lumayanlah.

Salahnya, kebiasaan itu masih saya bawa sampai sekarang. Dan imbasnya benar-benar terasa. Keteteran pol. Bayangkan, kebiasaan berleha-leha ala anak SMA -yang tugasnya masih bisa dikompromikan- saya terapkan pula di masa kuliah yang notabene tugasnya jauh lebih berat, lebih banyak, dan, yang paling buruk, lebih tidak dapat dikompromi. Sekali lagi, keteteran pol.

Jadi, Anda sudah mengerti kan, mengapa saya mengkambinghitamkan tugas untuk kevakuman saya ngeblog. Tanpa ada tugas saja saya sudah jarang ngeblog, apalagi sekarang. Karena itu, saya mau minta maaf dulu pada Anda para pembaca setia blog ini-kalau ada.

Saat ini, saya sedang merencanakan sebuah revolusi. Revolusi bagi diri saya sendiri. Saya sekarang mencoba menata kembali kebiasaan-kebiasaan hidup dan manajemen pribadi saya, agar saya tidak lagi mengumpulkan tugas saat deadlinenya sudah lewat, agar saya tidak lagi datang kuliah telat, agar saya tidak lagi bolos kuliah, agar waktu tidur saya tidak lagi kacau, agar kehidupan saya sebagai mahasiswa jadi berkualitas. Tolong doakan ya, agar usaha saya berhasil. Amin. Karena kalau berhasil, harusnya saya bisa lebih aktif ngeblog. Harusnya…(*)