Categories
100 kata Cerpen Karya Rupa-rupa

100 Kata – Model Part Time

Aku kesel banget habis diketawain temen-temenku waktu aku cerita tentang pekerjaan baruku sebagai model part time. Masa kata mereka aku ketinggian ngayalnya.

Mereka juga ndak percaya waktu tak bilang gajiku ini gede. Mereka malah nanya-nanya. Mana buktinya? Kok kemana-mana pergi nggak pake perhiasan atau barang-barang mahal gitu?

Ah, daripada buat gaya-gayaan gitu, mendingan duitnya tak tabung, buat modal bisnis nanti. Lagipula, kalau terlalu mentereng, nanti bisa-bisa aku dirampok. Mending cuma dirampok, kalau diperkosa juga piye? Aku kan seksi.

Sudah ah, ngelantur. Aku mau pemotretan dulu sama majikanku di kamarnya, mumpung istrinya pergi. Eh, lingerie yang baru dia beliin dimana ya?(*)

 

Categories
Cerpen Karya

100 Kata: Telepon

Telepon

“Aku kangeeen…”

“…”

“Ketemuan yuk?”

“Nggak bisa. Kita udah nggak usah ketemuan lagi seterusnya. Kamu nggak usah telepon-telepon aku lagi. Pokoknya kita nggak usah berhubungan lagi.”

“Lho, kenapa tiba-tiba?”

Tut… tut… tut…

Aku tertegun. Memang sih aku pergi dua minggu tanpa menghubunginya sama sekali, tapi aku kan sudah bilang sebelumnya kalau di tempat dinasku memang tidak ada sinyal. Waktu itu dia juga sudah mau mengerti.

Aku masih belum bisa terima. Kuhubungi nomor hapenya. Sial, tidak diangkat. Kucoba hubungi nomor rumahnya.

“Halo. Bisa bicara dengan Lita?”

“Hah, siapa ini?! Jangan main-main ya! Lita sudah meninggal seminggu yang lalu.”

Tut… tut… tut…

Categories
Cerpen Karya

100 Kata Versi Saya

Jago Monopoli

Adikku jago sekali bermain monopoli. Ia selalu mengalahkanku. Bahkan di dunia nyata sekalipun. Tak ada barangku yang bukan miliknya.

Kadang-kadang aku merasa jengkel juga. Pernah suatu ketika aku marah dan memukulnya saat ia berusaha merebut pulpen baru hadiah ranking pertama dari guruku. Bukannya kapok, ia malah memukul balik lalu berpura-pura menangis dan melapor pada ibu. Ah, dia kan anak bungsu. Jelas ibu menyalahkanku.

Sejak itu ia terus memonopoliku, termasuk soal warisan. Aku pun tak dapat berbuat apa-apa. Mau bagaimana lagi? Aku hanya bisa berbaring kaku di peti ini. Sedang ia pura-pura sedih melihatku mati karena racun tikus yang ia beri.

——————————–

Ibuku Si Tukang Cerita

Ibuku seorang tukang cerita yang hebat.

Beliau suka bercerita tentang bapak yang tidak pernah memberinya uang belanja; tentang bapak yang suka memukulinya bila ia mengeluh tentang uang sekolahku; tentang bapak yang suka meminta uang hasil kerja lemburnya; tentang bapak yang ini, tentang bapak yang itu. Semua tentang bapak, semua kisah sedih.

Sejak minggu lalu, diam-diam kurekam setiap cerita ibu padaku. Kemudian, kudengar dan kutulis lagi yang rapi. Kukirim tulisanku itu pada penerbit. Ternyata mereka menyukainya! Lalu mereka menyuruhku untuk mengirim lebih banyak cerita lagi dan berjanji akan membukukannya.

Sayang, ibuku tidak bisa bercerita lagi. Hari ini sidang cerainya yang pertama.(*)

Categories
Cerpen Karya Puisi

Kereta

Derak roda besi ini mengingatkanku akan nyanyianmu
tidak merdu, tapi cukup membuatku rindu

kulempar pandanganku ke luar jendela
terkejut aku melihat wajahmu menyembul di sana, mengintipku
ah, kiranya hanya khayalku

sesak udara di sini membawaku pada rasa saat kita menyatu, erat melekat, sesak melesak
berpeluk dan saling memagut
aih, yang satu itu takkan pernah kulupa
bahkan manis di ujung bibirku pun sungguh masih terasa

puluhan orang di sekelilingku berbagai rupa pula acara
tapi bagiku kini, mereka hanyalah angin lalu
sebab pada lelakon ini, hanya ada kau dan aku

ah… di ujung jalan besi ini, bisa kubayangkan aku memilikimu

Categories
Cerpen

Bangku

Belum lama ini saya oprek-oprek kamar saya dan menemukan sebuah cerpen saya yang sempat dimuat disalah satu harian. Cerpen itu saya tulis waktu saya kelas satu SMA. Waktu itu banyak  teman saya yang berkomentar bahwa isinya tidak dapat dimengerti. Bagaimana dengan Anda? Mengertikah?

Udara seperti melarutkan aku menjadi butiran uap-uap yang mengambang terseret angin kesana kemari. Sejak berlalu dari dua jam yang lalu, aku terduduk di bangku taman menunggu terisi satu sisi di sebelahku yang kosong. Bukan, bukan hanya menunggu terisi, tapi juga ditempati orang yang benar-benar kuinginkan untuk mengisinya. Orang yang membuatku merasa tak bermateri.

Aku bagai udara, bergerak sealiran angin senja terbelah guguran daun kering menguning. Bias sinar kemerahan telah menggelayut di kaki langit, sementara bus kota datang dan pergi tanpa kesan di halte depan taman ini. Aku terus menatap ke sana. Muncul wajah yang kutunggu, dari balik bus tua itu, begitu mauku. Tetap saja dia menipuku pada akhirnya. Dan aku pun pulang untuk kembali esok lagi.

***