Categories
curhat opini

Tuntutlah Ilmu Sampai ke Negeri Kincir Angin

Masih rangkaian artikel saya untuk Kompetiblog 2011, ini tulisan saya yang kedua.

 

Tuntutlah Ilmu Sampai ke Negeri Kincir Angin

 

Anda yang muslim tentu tahu bahwa Nabi Muhammad SAW menganjurkan kita untuk senantiasa menuntut ilmu, bahkan sampai ke negeri China. Melalui pesan tersebut beliau menekankan pentingnya ilmu sebagai bekal kita, sehingga jarak yang jauh pun tidak bisa dijadikan halangan dalam meraihnya. Persoalan dimana mencarinya, tentu tidak harus melulu ke China. Itu kan hanya satu contoh. Mungkin saja pada zaman itu China sedang dalam masa emas pada bidang keilmuan. Kalau sekarang, saya rasa banyak juga negara lain yang bisa jadi tujuan. Yah, China juga tidak buruk sih. Kalau saya ditanyai apa mau belajar di negara tirai bambu tersebut pasti saya langsung menjawab iya, andai saja pendidikan di sana diantarkan dalam bahasa Inggris, syukur-syukur Indonesia (yang ini agak terlalu mengkhayal, saya tahu).

Pelajaran bahasa Mandarin baru saya dapat di bangku kelas X (1 SMA). Bahasa tersebut saya pelajari selama tiga tahun. Ironisnya, sampai sekarang saya sudah lulus, saya masih belum cukup percaya diri untuk mengucapkan kata selain ‘ni hao’ dan ‘zai zian’, apa kabar & sampai jumpa. Seingat saya pun, pelajaran yang saya dapat selama tiga tahun tidak berkisar jauh dari situ.

Mungkin memang bahasa Mandarin yang agak terlalu rumit. Boleh jadi bahasa asing lain tidak sesulit itu. Harusnya, jika saya punya motivasi yang kuat, bisa saja saya ambil kelas persiapan atau kelas intensif bahasa, katakanlah paling lama setahun, lalu saya sudah siap berangkat ke negeri seperti Jerman, Perancis, Jepang, dsb. Hanya saja, rasanya tidak semudah itu. Bahasa ilmiah yang digunakan dalam perkuliahan di universitas tentu akan sangat berbeda dari sekadar bahasa sapa-menyapa atau berbasa-basi. Lagipula, saya sudah hampir sepuluh tahun belajar bahasa Inggris (sejak kelas 3 SD). Jadi, kalau disuruh memilih, saya lebih memilih kuliah berbahasa Inggris. Saya memang belum sejago itu bercas-cis-cus dalam bahasa Inggris. Tapi, paling tidak saya jauh lebih menguasai bahasa ini dibanding bahasa asing lain. Karena masalah bahasa ini, saya menjatuhkan preferensi saya pada Belanda, negara berbahasa non-Inggris pertama yang berani menawarkan program studi berbahasa Inggris.

Mengapa bukan Amerika atau sekalian langsung saja ke Inggris? Jawabannya simpel: biaya. Dibanding negara lain, biaya pendidikan di Belanda cukup kompetitif. Sekarang, siapa coba yang tidak mau mendapat pendidikan berkualitas dengan biaya terjangkau?

Sejak SMA, promosi kuliah di luar negeri dari Belanda selalu berhasil menarik perhatian saya. Sampai sekarang pun masih, terutama karena brosurnya yang cantik sebab dihiasi warna oranye yang terang. Hanya saja, sayangnya dulu saya belum memiliki niat melanjutkan kuliah di luar negeri. Lebih tepatnya, saya tidak memiliki niat untuk melanjutkan kuliah. Sekarang, saya bersemangat sekali untuk kuliah di luar negeri. Yah, semoga saja dua minggu summer school ini (kalau lolos, amin) nantinya bisa jadi langkah penjajakan awal yang berarti.(*)

Categories
opini

Rumput Belanda

Wah, sudah berapa lama ya saya tidak ngeblog? Kalau ibarat rumah, mungkin sekarang ini blog saya sudah masuk tahap suwung, debu dimana-mana, sarang laba-laba merajalela, kecoa dan tikus berlarian. Persis seperti rumah-rumah kosong berhantu yang sering muncul di film-film horror itu lho.

Ironis sekali memang, mengingat sekarang ini saya justru sedang aktif di Komunitas Online Arek-ITS.com pada grup Facebook saya (selain menggarap tugas lho ya…). Yah, sekumpulan blogger begitulah. Dan saya ini termasuk yang suka memancing kontroversi. Hehehe… Tapi, biarpun aktif di komunitas blogger, blognya sendiri malah tidak pernah diurus. Daripada merasa bersalah yang berkepanjangan, nih, saya kasih satu update dulu. Copy-paste sih, tapi wong yang nulis ya saya sendiri ini, jadi ndak masalah toh?!

Tulisan ini termasuk satu di antara dua artikel yang saya ikutkan Kompetiblog 2011 lalu. Sayangnya, artikel ini belum berhasil membawa saya ke Belanda mengikuti summer school selama dua minggu. Yah, paling tidak saya ada produk tulisan lah. Jadi otak saya ini sempat dibuat mikir, bukannya galau melulu mikirin tugas. Walah, jadi melantur begini. Ya sudah, monggo dibaca saja. Jangan lupa komentarnya ya!

Rumput Belanda

white tulip, bunga tulip, tulip belanda, tulip putih, bridal tulip, tulip pengantin, tulip pernikahanPepatah lama bilang rumput tetangga selalu terlihat lebih hijau. Tidak sedikit juga yang membenarkan hal ini. Kalau yang mengamati itu tidak punya rumput di halamannya atau malah tidak punya halaman, ya saya rasa tidak usah dibahas lebih lanjut lagi. Namun, jika ia juga memiliki rumput di halamannya, entah itu memang ditumbuhkan atau tumbuh dengan sendirinya, kemungkinannya jadi dua. Yang pertama, sang pengamat rumput tetangga ini termasuk tipe orang yang kurang percaya diri, sehingga selalu merasa bahwa milik tetangganyalah yang selalu lebih segar dan lebih baik dari miliknya. Padahal, aslinya mungkin ya nggak jauh-jauh amat bedanya. Kemungkinan kedua, rumput tetangganya itu ternyata memang lebih hijau, baik karena jenis rumputnya yang lebih super maupun perawatannya yang lebih intens.

Kalaulah orang Indonesia menganggap negeri Belanda sebagai tetangganya, barangkali yang berlaku adalah kemungkinan kedua. Perkara ini pun sebenarnya masih bisa diperdebatkan. Entah memang demikian adanya -warna “rumput” Belanda lebih hijau, atau orang Indonesianya yang terlalu minder dengan negaranya sendiri, jadinya sangat meyakini bahwa rumput di sana memang lebih hijau, bukan sekedar kelihatannya. Mana yang benar? Kalau Anda tanya saya, saya akan langsung kabur, menghindar. Terus terang saya agak bingung juga harus menjawab seperti apa.

Categories
opini physics blog competition

Negara Pengekspor Pembantu

Seberapa sering Anda membaca atau melihat berita tentang TKW asal Indonesia yang disiksa atau berusaha kabur dari rumah majikannya di luar negeri? Cukup sering. Bukan satu dua kali kita membaca di koran atau melihat di televisi berita tentang TKW yang dipukuli, disundut rokok, disetrika, dan disiksa dengan berbagai macam perlakuan yang mengerikan lainnya oleh sang majikan. Anehnya, meskipun sudah sering diberitakan dan (katanya) ditanggapi oleh pemerintah, peristiwa ini masih terus terjadi.

Tenaga Kerja Indonesia (TKI) yang katanya disebut-sebut sebagai pahlawan devisa malah akhirnya terkesan hanya dieksploitasi oleh negara untuk mendapat pemasukan tanpa diimbangi dengan perlindungan yang menyeluruh. Beginikah nasib warga negara kita di negeri orang? Sungguh memprihatinkan.

Categories
info opini physics blog competition Rupa-rupa serial balada maba

Institut Teknologi Sebenarnya

Lain tetangga, lain pula tusukan teman lama yang polosnya luar biasa. “Kuliah dimana sekarang?” tanyanya. “Ehm… Jadi nggak enak nih nyebut-nya,” gaya saya agak sombong. “ITS dong bro!” jawab saya bersemangat. “Wah… ITS, pinter juga lu bro! Di Semarang nge-kos apa sama saudara?”.

Sepotong percakapan di atas saya ambil dari tulisan Bahtiar Rifai Septiansyah, mahasiswa Teknik Perkapalan ITS, yang berjudul “Melawan Hegemoni ITB”. Tulisan tersebut dimuat di website ITS pada tanggal 12 April 2010.

Anda yang belum tahu ITS pasti biasa-biasa saja usai membaca tulisan di atas. Anda mungkin berpikir, apanya yang aneh, itu kan hanya percakapan biasa antara dua orang teman. Ya, memang hanya percakapan biasa. Yang salah adalah isi pembicaraannya. Perlu Anda tahu (bagi yang belum tahu) bahwa ITS itu adanya di Surabaya, bukan di Semarang, apalagi di Sorong, Papua.

Nah, Anda yang sikapnya tidak biasa-biasa saja, mungkin merasa geli, heran, atau bahkan tersinggung setelah membaca tulisan di atas, mungkin saja Anda sudah mengenal ITS. Loh, mengapa kok pakai “mungkin”? Coba Anda jawab dulu, menurut Anda, apakah kepanjangan dari ITS? Kalau jawaban Anda seperti ini: “Ah, kalau itu, semua orang juga tahu. ITS kan singkatan dari Institut Teknologi Surabaya,” maka saya rasa kata “mungkin” tepat untuk saya gunakan.

logo its

Nama ITS, terutama huruf akhirnya, memang kerap menimbulkan salah tafsir. ITS memang terletak di Surabaya, tapi huruf ‘S’ yang paling belakang itu bukanlah singkatan dari Surabaya, melainkan Sepuluh Nopember, satu hal yang sering salah dipahami oleh banyak orang.

Apalah arti sebuah nama, demikian kata Shakespeare. Saya pribadi kurang setuju dengan ungkapan tersebut. Justru, nama itu sangat penting. Coba Anda bayangkan setiap hari harus bertemu dan berinteraksi ratusan orang yang tidak punya nama. Pasti repot kan?

Lagipula, nama adalah doa. Doa dari si pemberi nama terhadap yang dinamai. Pernahkah Anda dengar ada orang yang menamai anaknya dengan nama-nama yang buruk atau berarti keburukan? Tentu tidak kan?

Begitupun dengan ITS. Nama Sepuluh Nopember tentu tidak asal comot begitu saja. Anda pasti tahu bahwa pada tanggal 10 Nopember 1945, terjadi pertempuran hebat melawan penjajah di Surabaya. Saking besarnya pertempuran ini, tanggal 10 Nopember sampai diperingati sebagai Hari Pahlawan Nasional. Semangat perjuangan inilah yang mendasari pemilihan nama perguruan tinggi ini. Untuk lebih lengkapnya, coba baca kutipan di bawah ini:

Nama perguruan tinggi tersebut dipilih dengan maksud supaya jiwa dan cita-cita 10 Nopember 1945 dipergunakan sebagai dasar oleh para mahasiswa. Pada jiwa 10 Nopember 1945 tersimpul tekad dan keikhlasan untuk berkorban bagi negara, serta dengan diiringi rasa persatuan dan semangat gotong-royong harus menjadi dasar bagi semangat mahasiswa. Dengan jiwa 10 Nopember diyakini bahwa para mahasiswa akan dapat menyelesaikan studi dengan memuaskan dan diharapkan dapat mencetak generasi muda yang berguna bagi nusa dan bangsa.

(Buku IPITS Mahasiswa Baru Tahun 2010/2011)

Nah, sudah mengerti kan makna dan alasan pemilihan nama Sepuluh Nopember? Semoga saja semangat dan harapan dibalik nama tersebut mampu menjiwai saya dan juga rekan-rekan mahasiswa lain dalam menempuh pendidikan di ITS ini bahkan sampai lulus dan terjun ke masyarakat. Amin…

Eh, ngomong-ngomong soal nama, saya ingin sedikit bercerita. Waktu saya mengikuti Pelatihan Karya Tulis Ilmiah (PKTI) yang diadakan oleh Hima Sthapati Arsitektur, jurusan saya, seorang pemateri sempat melontarkan sebuah guyonan. Menurutnya, di Indonesia ini ada dua institut teknologi, Institut Teknologi Sebenarnya dan Institut Teknologi Bohong-bohongan. Anda pasti tahu apa maksudnya. Tapi ini cuma guyonan lho ya, jangan dimasukkan hati.

Ehm… Tapi kalau disuruh memilih, Anda lebih memilih yang mana, yang sebenarnya atau yang bohong-bohongan? Kalau saya sih ya yang sebenarnya dong… (*)

Categories
opini pelajaran hidup Rupa-rupa

Aku Nggak Mau Jadi PNS, Ma

Halo, sekarang saya sedang berada di perpustakaan pusat ITS, ngeblog dan twitteran menggunakan fasilitas wifi yang diakses dari ponsel pemberian kakak tersayang.

Pada awalnya, saya tidak berniat ngeblog sampai akhirnya saya melihat ada sesuatu yang menarik yang sedang berlangsung di depan saya. Seorang mahasiswa -yang dari penampilannya saya perkirakan adalah mahasiswa tahun-tahun akhir- sedang duduk sambil menghadap laptop & membelakangi saya di area lesehan ruang majalah. Tapi, bukannya berkutat dengan laptopnya, ia malah terlihat lebih serius bertelepon dengan seseorang. Dari pembicaraannya sih bisa saya simpulkan ia sedang berbicara dengan mamanya. Bukannya mau bersikap tidak sopan dengan menguping pembicaraan orang lain ya, tapi dengan suasana perpus yang cukup tenang dan jarak kami yang kurang dari tiga meter, mau tidak mau ya terdengar juga.

Apa yang saya ungkapkan sebagai hal menarik di awal tadi adalah isi pembicaraan si mas ini. Tampaknya, ia sedang berdebat keras dengan mamanya di seberang. Dari sepotong obrolan yang saya tangkap, tampaknya sang mama bersikeras menyuruhnya menjadi PNS. Sementara sang anak pun tidak kalah bersikeras menolak. Sang anak pun sempat menyebut, “Ma, rejeki iku onok neng endi-endi (Ma, rejeki itu ada dimana-mana).” Namun tampaknya usaha sang anak belum berhasil karena perdebatan di antara mereka tetap berlanjut. Bahkan, sepertinya sang mama semakin tidak mau mengalah. Seringkali saya mendengar Mas tadi menggeram tertahan dan menyebut kata-kata seperti “Mama!” atau “Gusti…” dengan nada yang nyaris putus asa. Saya bahkan bisa membayangkan bila pembicaraan itu terjadi pada seorang yang emosional, pastilah ia sudah menangis sekarang ini. Untungnya Mas di depan saya ini, yang meskipun terdengar sudah putus asa sekali, tidak menangis.

Peristiwa seperti ini mungkin cukup sering kita temui, atau mungkin kita alami sendiri. Mungkin ada saat dimana apa yang kita inginkan tidak sesuai dengan apa yang orang tua kita inginkan, terutama ketika hal tersebut berkaitan dengan masa depan kita. Bisa jadi, ketika berada dalam situasi itu, kita merasa kesal pada orang tua kita. Yang menjalani kehidupan itu nantinya toh aku, mbok ya biar aku menentukannya sendiri. Begitu mungkin pikiran kita. Tidak salah, tapi juga tidak sepenuhnya benar.

Kadang kita sering lupa betapa sayangnya orang tua terhadap kita. Dan intervensi -kalau bisa disebut begitu- orang tua dalam hal-hal tertentu bisa jadi merupakan bentuk kepeduliannya. Orang tua selalu menginginkan yang terbaik bagi anaknya. Dan seringkali pula mereka merasa perlu memaksakan kehendak mereka karena pengalaman hidup mereka lebih banyak daripada anak-anaknya. Bukan sesuatu yang salah memang. Meskipun demikian, pendapat bahwa kitalah yang menjalani kehidupan kita sendiri pun perlu dipertimbangkan. Menjalani apa yang tidak kita inginkan tentu akan sangat tidak menyenangkan. Bukan tidak mungkin bahkan akhirnya jadi kurang memuaskan karena kita menjalaninya atas dasar terpaksa, separuh hati.

Jadi harus bagaimana dong? Saya sih bukannya mau bersikap sok bijak ya, saya toh masih sangat muda, masih 17 tahun, masih perlu banyak sekali belajar dalam hidup. Tapi kalau saya yang berada dalam posisi di atas, maka saya pun harus bersikap juga. Yang jelas, saya harus terlebih dahulu memahami keinginan orang tua, karena seringkali keinginan pribadi dan emosionalitas yang tinggi bisa menutup mata hati dan kemampuan berpikir jernih kita. Saya merasa perlu memahami pikiran orang tua saya dari sudut pandang mereka, mengapa mereka menyuruh saya berbuat demikian. Ketika hal itu terjadi dan saya tahu maksud baik orang tua saya, saya bisa berpikir lebih bijak dan tidak egois.

Mengkomunikasikan apa yang kita inginkan tetap diperlukan. Coba jelaskan kepada orang tua kita mengapa kita menginginkannya dengan alasan-alasan yang logis dan kuat. Cobalah dengan tutur kata yang sopan dan pas untuk membuat orang tua kita mampu melihat hal tersebut dari sudut pandang kita pula. Dengan demikian, masing-masing dari kita (orang tua dan anak) dapat saling memahami dan kemudian mencari keputusan dengan lebih bijak.

Ada kalanya memang pada akhirnya usaha di atas tidak berhasil, tidak ketemu jalan pikirannya. Kalau memang sudah demikian, saya lebih memilih untuk mengalah, menuruti apa kata orang tua saya sambil belajar ikhlas dalam menjalankannya. Berikutnya kita hanya perlu belajar untuk mencintai pilihan tersebut, meskipun prosesnya jelas memakan waktu. Sebab, mau bagaimana lagi, kesuksesan hidup tak bisa lepas dari restu orang tua. Ya kan?

Untungnya, selama ini saya belum pernah benar-benar berselisih pendapat dengan kedua orang tua saya. Pernah sekali waktu dulu saya memutuskan untuk kuliah di Arsitektur ITS. Ibu saya kurang setuju karena khawatir prospek kerja sebagai arsitek kurang bagus, sementara ayah saya lebih mengarahkan saya agar kuliah di UGM Yogyakarta. Untungnya, saya bisa meyakinkan mereka. Sekarang, saya sudah menjadi mahasiswa di Arsitektur ITS dan kedua orang tua saya tidak lagi membahas atau mempermasalahkannya.

Oh, soal Mas yang tadi, dia sudah keluar cukup lama tadi sementara saya menyelesaikan postingan ini. Tensi pembicaraannya diakhir tadi tampaknya sudah agak menurun. Meskipun saya tidak tahu bagaimana hasil akhirnya, I hope it’s a happy ending for all. (*)

Categories
opini pelajaran hidup

Jilbab Bukan Pakaian

jilbab, hijab

Eits, jangan terburu-buru bereaksi keras terhadap judul di atas. Lebih baik, teruskan dulu membaca sampai selesai baru berkomentar.

Memasuki bulan ramadhan ini, seperti yang sudah-sudah, pemandangan wanita berjilbab mulai sering kita temui, terutama di layar kaca. Kebanyakan artis wanita memakai jilbab, atau paling tidak kerudung, dengan alasan menghormati bulan ramadhan. Bahkan artis wanita yang non muslim sekalipun rela memakai pakaian tertutup tersebut demi tuntutan pekerjaan. Tapi, coba lihat penampilan mereka setelah, katakanlah, lebaran, kembali lagi ke gaya berpakaian mereka yang awal. Busana minim nan seksi menggoda hati. Mungkin saja ada satu dua yang mendapat hidayah dan tetap bertahan memakai jilbab. Namun, sepertinya jumlahnya sedikit sekali.

Menghormati bulan ramadhan memang perlu, bahkan harus. Tapi satu hal yang perlu dipikirkan adalah: tidak perlukah mereka (para selebritis wanita) MENGHORMATI DIRI MEREKA SENDIRI? Karena saya rasa, itulah tujuan agama Islam mewajibkan para perempuan memakai jilbab yang benar, yang menutup aurat dan melindungi pemakainya, agar mereka bisa menghormati diri mereka sendiri, untuk selanjutnya secara otomatis dihormati oleh orang lain.

Kebanyakan wanita sekarang, bukan hanya selebritis, memperlakukan jilbab sebagai pakaian. Yang berarti, harus mengikuti mode dan fashion. Ketika bulan ramadhan, maka mode yang sedang ngetren adalah busana muslim dan jilbab. Ketika ramadhan usai, modenya pun sudah ganti. Pakaiannya pun berganti juga. Oh, satu lagi. Saking modenya, sampai sekarang pun muncul berbagai macam gaya berjilbab. Ada jilbab yang dikuncir dibelakang dan memperlihatkan bagian leher, ada yang berjilbab tapi rambutnya dikeluarkan sedikit membentuk poni (saya suka menyebut yang satu ini sebagai jilbab poni), dsb. Begitukah seharusnya?

Categories
opini

Kepakkan Sayapmu Hai Garudaku!

Selamat Hari Kebangkitan Nasional!

Seratus dua tahun sudah kita mengenal nasionalisme. Selama itu pulalah kita disatukan olehnya. Tapi, selama itu, telah banyak hal yang kita alami. Dijajah Belanda, dijajah Jepang, merdeka, mempertahankan kemerdekaan, orde lama, orde baru, reformasi, sampai sekarang ini kita sampai pada titik ini, 20 Mei 2010.

Satu pertanyaan yang patut kita ajukan pada diri kita sendiri. Sudahkah kita benar-benar bangkit?

Categories
info opini

Nyanyian Bocah Masa Kini

petualangan sherina, sherina, penyanyi cilik, film indonesia

Dia pikir… dia yang paling hebat

Merasa paling jago dan paling dahsyat

Masih ingat petikan lagu di atas? Kalau Anda masih seangkatan dengan saya, atau paling tidak beberapa tahun di atas dan di bawah saya, pasti tidak terlalu asing dengan petikan lagu Jagoan milik Sherina tersebut. Lagu tersebut sempat nge–hits di tahun… berapa ya?? Saya lupa pastinya, yang jelas saya masih SD waktu itu. Lagu itu nge–pop bersamaan dengan filmnya, Petualangan Sherina. Eh, setelah tanya Om Google, rupanya Petualangan Sherina ini tayang tahun 2000. Dari film itulah, nama Sherina mulai diperhitungkan sebagai salah satu penyanyi cilik kenamaan pada waktu itu.

Categories
opini

Korupsi dan Ikan-Ikan di Danau

Kasus Century menggeliat lagi. Setelah seolah-olah menghilang, tertutupi oleh berbagai kasus lain, kini kasus ini mulai merebak lagi, terutama setelah adanya pembentukan tim pengawas dari DPR yang sudah disahkan dalam rapat paripurna kemarin lusa (26/4).

KPK sebagai lembaga yang dipercaya menangani kasus ini kembali disorot. Adanya tim pengawas bentukan DPR ini pun sebagai langkah lanjutan dari banyaknya opini publik yang menilai kinerja KPK lambat dalam menyelesaikan kasus Century ini. Bahkan, mulai muncul anggapan bahwa ada pihak tertentu yang mengintervensi KPK dalam hal ini.

Categories
opini

Saya Anti Selingkuh, Maka Saya Jadi Player

Beberapa waktu yang lalu, seorang teman saya, Regi Kusuma, mengirim wall message di account Facebook saya. Begini bunyinya:

sadar atas diri kita, sadar atas lingkungan kita, lebih penting memikirkan
ini, daripada memikirkan masalah hati kita terhadap lawan jenis,
tidakkah kita sadar, diri kita dan lingkungan kita membutuhkan lebih
daripada perasaan terhadap lawan jenis??? ini hanya sebagai renungan,
semoga kita bisa menjadi lebih baik

Bagaimana pendapat saya? Setuju, tapi tidak sepenuhnya. Kalau mau pakai hitung-hitungan angka akan saya beri tujuh dari sepuluh. Yang tiga akan saya simpan untuk saya sendiri karena, biar bagaimanapun, akan sangat naif bila kita bilang tidak tertarik sama sekali dengan hubungan antar jenis ini. Sebagai manusia biasa, adalah sangat naluriah untuk memiliki rasa ketertarikan terhadap lain jenis. Toh ini bukan hal yang salah. Dalam Al-Quran dijelaskan pula bahwa manusia diciptakan berpasang-pasangan. Bahkan menikah termasuk salah satu sunah Rasul. Jadi, sah-sah saja untuk memikirkan perkara ini, hanya saja, tidak perlu ngoyo ataupun berlebihan. Jangan sampai kita lebih sibuk mencari pacar daripada membantu sesama, misalnya. Jodoh toh tidak lari kemana. Betul tidak?