Catlovers, awas mewek baca buku ini.

[Giveaway alert! Baca seterusnya untuk tahu cara memenangkan satu eksemplar buku The Traveling Cat Chronicles dan hadiah hiburan lainnya]

Jarang sekali saya menangis gara-gara membaca buku (kalau nonton film, sering). Terakhir saya mewek saat membaca adegan Dumbledore terbunuh di novel Harry Potter keenam. Itu kejadian saat saya SMA alias lebih dari sepuluh tahun lalu.

Buku yang akan saya ulas ini akhirnya pecah telor jadi buku kedua yang bikin saya membaca sambil menangis sesenggukan. Saat menulis ini, saya sudah membaca buku tersebut dua kali dan dua-duanya air mata saya mrebes mili. Judulnya adalah The Traveling Cat Chronicles.

Buku ini berkisah tentang Nana, seekor kucing liar yg dipertemukan oleh nasib dengan Satoru, pemuda yang menyelamatkannya dari nasib sial di jalanan. Dia dinamai “Nana” yg berarti tujuh, sebab ekornya bengkok menyerupai angka tersebut.

Setelah lima tahun bersama, suatu hari Satoru bilang ia tak lagi bisa merawat Nana dan akan mencarikannya pemilik baru. Mereka pun memulai perjalanan menemui teman-teman lama Satoru yang sudah menyatakan kesediaannya merawat Nana.

Petualangan pun dimulai.

Perjalanan tersebut bukan hanya soal mencari kandidat pemilik baru Nana. Selain kesempatan bernostalgia, bagi kawan-kawan lama Satoru, pertemuan tersebut menjadi pengingat betapa berpengaruhnya Satoru dalam kehidupan mereka, bahkan setelah belasan tahun terpisah.

Bagi Nana, perjalanan tersebut memberi pengalaman-pengalaman menakjubkan yang ia tahu tak banyak didapat kucing-kucing lainnya. Yang terpenting, perjalanan tersebut menegaskan kenyataan bahwa ia dan Satoru saling meyayangi dan tak terpisahkan satu sama lain…

Kira-kira, udah ketebak nggak bagian tersedihnya tentang apa?

Cover Buku Novel The Traveling Cat Chronicle

POV: kamu adalah kucing

Jujur saya sudah bisa menerka-nerka akhir cerita sekaligus plot rawan menginduksi air mata novel ini sejak bab-bab awal (meski tetep aja ujung-ujungnya nanang ismail alias nangis).

Tetapi, daya tarik buku ini bukan cuma bagian melankolisnya. Justru, bagi saya, faktor yang paling menghibur adalah bagaimana pengarang menyajikan penceritaan mostly dari sudut pandang Nana si kucing. Kayak… kita kalau membayangkan kucing punya kepribadian tuh bakal kayak gimana sih? Yang songong dan prideful alias gengsian, yang mengganggap manusia—dan pada dasarnya semua mahkluk selain spesies kucing—tuh warga bumi kelas ke-sekian, ya itulah si Nana.

Penulisan narasi dengan strategi POV atau point-of-view ini terasa otentik dan konsisten banget sepanjang jalan cerita. Pembaca seakan bisa sungguhan memahami apa yang ada dalam benak seekor kucing saat berada di lingkungan atau situasi yang berlainan. Meski demikian, sesekali narasi orang ketiga tetap digunakan penulis untuk membantu pembaca memahami cerita secara keseluruhan.

Be a kind-hearted and genuine human being, be like Satoru

Walaupun sejak mula buku ini didominasi oleh perspektif Nana si kucing, saya merasa the real hero of the story adalah Satoru, tokoh pemuda yang mengadopsi Nana di awal cerita. Membaca novel ini, saya jadi merasa kagum sekaligus iri terhadap karakter Satoru. Kok bisaaa ya ada orang sebaik dan setulus itu.

Hidup Satoru sendiri bisa dibilang tak terlalu beruntung. Tetapi, ia tetap bisa menjalaninya dengan positif seolah tanpa beban. Tanpa disadarinya, sikapnya dalam memandang kehidupan ini ternyata memberi kesan dan dampak yang begitu mendalam bagi orang-orang di sekitarnya. Hal itu tercermin kemudian dari babak perjalanannya menemui kawan-kawan lama yang akan ia daulat sebagai pemilik baru Nana.

Saya pun turut tersentuh.

Barangkali itulah kenapa saya jadi ikutan mewek brutal membaca ending cerita buku ini. Sebagaimana Nana, saya pun memandang Satoru sebagai sosok kawan baik yang akan selalu dihormati, dikenang, dan dirindukan.


The Traveling Cat Chronicles ini adalah bacaan yang cocok buat Anda yang suka dengan cerita yang ringan tapi “kaya”. Tipe bacaan yang cocok untuk menghangatkan hati dan mengingatkan diri bahwa dunia itu indah saat kita mampu mensyukuri hal-hal terdekat yang ada di sekeliling kita.

Buku Digital The Traveling Cat Chronicle

The Traveling Cat Chronicles

Pengarang: Hiro Arikawa

Penerbit: Penguin, NY

Tahun rilis: 2015

Tebal: 288 hlm.

Format: e-book (di Google Play Book)

Bahasa: Inggris (terjemahan dari bahasa Jepang)


Giveaway Novel “The Traveling Cat Chronicles”

  1. Buat satu konten review buku di Instagram.
  2. Format konten bebas, boleh single post, carousel, ataupun reels (kecuali story).
  3. Buku yang mau diulas pun bebas. Mau fiksi atau nonfiksi, yang sedang dibaca, yang pernah dibaca, atau bahkan yang ingin dibaca.
  4. Unggah kontennya ke Instagram, lalu invite collaboration akun @lingonesia.id & @komunitastemanbicara.
  5. Pastikan akun Instagram kamu tidak private yaa.
  6. Unggah kontennya paling lambat tanggal 27 Maret 2024.
  7. Pemenang akan diumumkan di Instagram @lingonesia.id tanggal 28 Maret 2024.
  8. Kalau ada yang ingin ditanyakan, feel free untuk DM akun @lingonesia.id.

Hadiah

  1. Satu eksemplar novel The Traveling Cat Chronicles (terjemahan bahasa Indonesia, rilisan Penerbit Haru).
  2. Satu buah buku binder bersampul kulit.
  3. Satu buah tempat pensil gulung berbahan kulit.

*) Masing-masing pemenang mendapat subsidi ongkos kirim maksimal Rp20.000. Barang dikirim dari Surabaya.


Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *