Susah banget ya buang sampah?

Saya suka nongkrong di Indomaret.

Kebetulan, ada satu gerai Indomaret yang berada tepat di seberang gang masuk menuju kosan saya. Jadilah dia jujugan saya sehari-hari, baik untuk belanja pernak-pernik kebutuhan ataupun sekadar buat numpang duduk-duduk.

Nongkrong di Indomaret adalah semacam comfort habit bagi saya. Tinggal jalan beberapa meter, beli camilan atau minuman kaleng, terus duduk-duduk aja di kursi yang ada di teras Indomaret situ. Seringkali hapean aja, kadang sambil bengong ngelihatin kendaraan atau orang seliweran di jalanan. Kalau lagi asyik main game, kegiatan “nongkrong” ini bahkan bisa bertahan hingga berjam-jam (tenang, saya tahu diri dan top-up camilan lagi kok wkwkwk).

Dari hobi ini, saya menyadari ada semacam fenomena sosio-kultural yang terjadi di kalangan masayarakat Endonesya yang sungguh bikin geregetan, yakni keengganan untuk membuang sampah pada tempatnya.

Ini terjadi nggak cuma di Indomaret deket kosan saya ya. Saat saya “studi banding” ke Indomaret atau gerai minimarket yang nongkrong-able di wilayah lain pun, saya kerap menjumpai kejadian yang sama. Bungkus-bungkus camilan dibiarkan keleleran alias berserakan begitu saja di atas meja dan orangnya sudah hengkang entah sejak kapan. Padahal, tempat sampah tuh nggak lebih dari lima langkah dari situ lho.

“Lah, ya itu kan kerjaan si petugas minimarketnya buat bersih-bersih dan buang-buangin sampahnya.”

Mohon maaf, saya tanya dulu nih kalau ada yang berpikir kayak gini, emang kalau kita buang sendiri tuh sampah, ruginya apa sih? Apakah berjalan lima langkah menuju tempat pembuangan yang sudah tersedia itu bikin kaki kita linu-linu atau kesemutan? Begitu beratnyakah menenteng kemasan-kemasan camilan itu sehingga tangan mungil kita jadi terbebani? Sedemikian berhargakah setiap butir waktu dalam hidup kita sehingga meluangkan barang sepuluh detik saja untuk buang sampah pun kita enggan?

Betul, saya yakin menjaga keseluruhan premis toko tetap rapi dan bersih merupakan salah satu bagian dari kewajiban pegawai minimarket yang bersangkutan. Tetapi, di antara sekian banyak peran yang mereka jalani sebagai kasir, shopkeeper, merchandiser, cleaning service, sampai tukang potong dan peracik salad buah (khususon pegawai Indomaret deket kosan saya), tidakkah hati kita tergerak sedikit saja untuk membantu?

Saya sendiri adalah penganut keyakinan, “Mudahkanlah urusan orang lain, maka urusan kita pun akan dipermudah.” Ketika sesi nongkrong saya usai, biasanya sampah-sampah eksisting yang ada di meja akan saya angkut untuk buangkan sekalian. Kalau lagi nggak ada orang sama sekali, saya beresin sekalian dah tuh sampah-sampah yang ada di meja sebelah. Bukan berharap petugas Indomaret berbagi sekian persen gaji atau insentif biaya kebersihannya dengan saya, tapi semata-mata saya mengganggap membuang sampah pada tempatnya adalah hal yang semestinya lumrah dilakukan.

Lagi pula, beneran deh, susah banget ya buang sampah?


Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *